KULONPROGO – Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta Internasional Airport (YIA) benar-benar siap untuk operasional? Ternyata, bandara tersebut sempat dinyatakan belum siap.

Ini didasarkan hasil investigasi yang dilakukan Ombudsman Republik Indonesia (ORI). Secara gamblang, ORI menyebut YIA belum layak beroperasi pada April ini. ORI memberikan beberapa catatan. Di antaranya, internet dan jaringan, pengujian airfield lighting, hingga pengerjaan landasan pacu (runway).

PT Angkasa Pura (AP) I mengklaim semua catatan sudah diselesaikan. Tidak hanya internet dan jaringan, pengujian airfield lighting, hingga pengerjaan landasan pacu (runway).

AP I juga mengklaim catatan terkait keamanan dan keselamatan penumpang telah dituntaskan. Termasuk catatan tentang area penumpang dalam terminal dan akses pekerjaan proyek. Kebisingan dan debu dari pekerjaan yang masih berlangsung pun telah dilakukan diatasi.

“Menara air traffic control (ATC) bahkan sudah berproses pembangunan oleh AirNav. Kantor BMKG juga sudah berkoordinasi dengan dua instansi, menyatakan sudah layak dioperasikan meski perangkat yang digunakan masih bersifat temporer,” jelas Project Manager Pembangunan NYIA PT AP I Taochid Purnama Hadi, Jumat (19/4).

Menurutnya, opersional minimum yang rencananya 29 April 2019 ditentukan dari hasil verifikasi Kemenhub RI. Izin operasi penerbangan jelas tidak akan dirilis jika Kemenhub menemukan kondisi airside belum siap.

Selain itu, AP I juga mengklaim proses pengerjaan airside dan landside YIA selesai sebelum operasi minimum 29 April. Seluruh paramater dari verifikasi Kementerian Perhubungan semua terpenuhi. Bahkanm temuan yang sifatnya minor sudah diselesaikan per 15 April.

“Semua aspek untuk kesiapan operasional bandara semua dinilai, mulai safety (keselamatan), security (keamanan), dan services(pelayanan),” ucapnya.

Fasilitas pendukung operasional minimum sudah mencapai 97 persen. Sedangkan fasilitas untuk mendukung operasional internasional hampir 47 persen.

Dia optimistis target 29 April bisa dikejar. Diharapkan Oktober nanti bisa operasional penuh.

“Namun kami tidak berani janji karena semua harus dipersiapkan dengan rapi dan baik. Semua fasilitas harus sudah tersedia dengan baik,” jelasnya.

Menurutnya, setelah full operation maka penerbangan domestik Bandara Adisutjipto Jogja akan digeser ke YIA. Selama ini, jumlah penumpang di Bandara Adisutjipto mencapai 6 juta orang.

Pengalihan dari Bandara Adisutjipto ke YIA menuntut aksesbilitas. Butuh moda transportasi pendukung yang terintegrasi. “Jadi, bukan hanya bandaranya, semuanya harus siap,” ujarnya. (tom/amd/fj)