JOGJA – Hak mendapatkan layanan koneksi internet tak hanya untuk warga perkotaan saja. Itu yang mendasari Net1 Indonesia fokus melayani konsumen di wilayah pedesaan.

CEO Net1 Indonesia Larry Ridwan menjelaskan, selama ini ketersediaan koneksi internet hanya berpusat di kota. Sebab, penyedia layanan dapat menyasar konsumen lebih mudah dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Berbeda dengan Net1 Indonesia yang fokus menyasar penduduk desa.

“Tingkat kepadatan penduduk desa sangat rendah. Satu kilometer persegi hanya ratusan, ini menjadi tantangan bagi kami,” jelasnya dalam National Distributor Meeting di Desa Tlogoharjo Giritontro Wonogiri, Selasa (23/4).

Karena itu, Net1 Indonesia memilih menggunakan frekuensi 450 MHz. Dengan frekuensi yang rendah, jangkauan menjadi lebih luas.“Dengan begitu lebih banyak masyarakat yang bisa memanfaatkan koneksi internet,” imbuhnya.

Menurut dia, dari 78 ribu desa yang tersebar di berbagai pelosok daerah, 15 ribu diantaranya masih kesulitan mendapatkan akses internet. Sejak 2017 Net1 berjejaring dengan dua ribu mitra untuk mewujudkan koneksi internet yang terjangkau bagi masyarakat luas. “Kami akan terus menjaring lebih banyak lagi mitra dan pelanggan,” ujarnya.

Sedang salah satu mitra Net1 di Desa Tlogoharjo Utomo mengaku, di desa ini tidak ada satu pun penyedia layanan yang terkoneksi. Belum lama dia menjadi mitra Net1, namun peningkatan penjualan toko kelontongnya naik drastis.

“Karena ada Wi-Fi pelanggan sambil ngopi dan nongkrong bisa sambil menikmati koneksi internet. Sebelumnya kalau ingin telepon saja harus berjalan paling tidak satu kilometer,” jelasnya.

Kepala Desa Tlogoharjo Warno menambahkan, masyarakat bersyukur dengan hadirnya jaringan internet di desanya.“Semoga koneksi internet dapat memajukan perekonomian masyarakat dan membuat taraf hidup lebih layak,” tuturnya.

Dia juga berharap, desa dengan komoditas utama kayu jati dan akasia ini mampu memasarkan produknya dengan lebih baik lewat pemasaran online. (*/cr10/pra/er)