BANTUL – Kesibukkan petugas KPPS menguras energi. Bahkan, tiga hari sebelum coblosan, petugas KPPS sudah sering begadang. Kondisi kesehatan hingga keselamatan nyawa sebagai taruhannya.

IWAN NURWANTO, Bantul

SUASANA duka masih menyelimuti salah satu rumah di RT 01 Dusun Genen, Gilangharjo, Pandak, Bantul. Beberapa tenda juga masih terpasang.

”Nanti malam pengajian tujuh harinya,” jelas Marjiyem menceritakan rencana pengajian untuk Mujiyono, almarhum suaminya, Rabu (24/4).

Ya, Mujiyono meninggal dunia Kamis (18/4). Tepat sehari setelah pemungutan suara Pemilu 2019. Saat menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Kabupaten Bantul. Pria 49 tahun itu sehari sebelumnya dilarikan ke UGD (unit gawat darurat) setelah merasakan nyeri hebat di bagian dada.

Menurut Marjiyem, almarhum suaminya mengeluh sakit sepulang menjaga kotak suara. Ya, pria yang menjadi petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) TPS 49 Dusun Genen, Gilangharjo, Pandak, Bantul, itu sejak Selasa (16/4) sibuk dengan persiapan Pemilu 2019. Bersama dengan petugas KPPS lainnya, Mujiyono sempat mendirikan TPS hingga menjaga kotak suara.

”Rabu (17/4) jam 02.00 baru pulang,” kenangnya.

Setibanya di rumah, bapak dua anak itu sempat minta kerokan. Marjiyem saat itu pun hanya menganggap bahwa suaminya hanya masuk angin. Kendati begitu, Marjiyem merasa ada yang janggal dengan suaminya.

”Saat dikeroki (Mujiyono) ngomong kalau gagal membahagiakan keluarganya,” tutur Marjiyem dengan raut wajah sedih.

Sebagai petugas KPPS, perempuan 40 tahun ini bercerita kesibukkan almarhum suaminya bertambah. Tiga hari sebelum coblosan, Mujiyono sudah disibukkan dengan serangkaian persiapan pemilu. Mulai mengikuti bimbingan teknis hingga membagikan undangan pemungutan suara kepada warga. Selama tiga hari itu pula Mujiyono mengeluh kurang tidur.

”Mungkin karena kecapekan. Kalau istilahnya orang Jawa, namanya masuk angin duduk,” ungkap Marjiyem menyebut penyebab turunnya kondisi kesehatan suaminya sebelum dilarikan ke rumah sakit.

Bagi Marjiyem, kepergian suaminya sebagai pukulan berat. Lantaran Mujiyono-lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Penghasilan dari warung kelontong yang dikelola Marjiyem hanya sebagai tambahan. Dari itu, Marjiyem sangat berharap Komisi Pemilihan Umum (KPU) bisa memberikan sedikit santunan.

”Anak pertama sudah berusia 17 tahun. Sekarang di bangku SMK. Sedangkan yang kecil masih kelas 1 SD,” ucapnya.

Komisioner Bidang Sumber Daya Manusia dan Partisipasi Masyarakat, KPU Bantul Musnif Istiqomah mengaku sudah melayat ke rumah duka. Selain memberikan santunan, KPU juga masih berupaya mengajukan klaim BPJS Ketenagakerjaaan untuk Mujiyono.

”Kalau tidak salah, (besaran BPJS Ketenagakerjaan) paling tidak sekitar 30 juta,” sebutnya.

Menurutnya, petugas KPPS diikutkan asuransi. Lantaran pekerjaan petugas KPPS sangat berat. ”Jam kerjanya minim istirahat,” katanya. (zam/rg)