SLEMAN – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sleman menemukan adanya kesalahan input data perolehan suara. Beberapa TPS pun harus melakukan penghitungan suara ulang.

Kesalahan diketahui saat rekapitulasi suara kecamatan. Ditemukan selisih suara di formulir C1 dengan jumlah daftar pemilih.

Kordiv Hukum, Data, dan Informasi, Bawaslu Sleman, Arjuna al Ichsan Siregar mengatakan, pihaknya mendapati kasus salah input di beberapa kecamatan. Namun jumlahnya belum selesai direkap. Belum diketahui di TPS mana saja yang harus dilakukan hitung ulang.

“Di Depok, Gamping, dan Mlati memang ditemukan salah input,” kata Arjuna, Kamis (25/4).

Salah input data kebanyakan berupa berubahnya perolehan suara untuk calon legislatif (Caleg) dan partai. Dimana suara untuk caleg juga dihitung suara partai.

“Misalnya caleg A dari partai A. Yang dicoblos nama caleg, tapi inputnya caleg dan partai masing-masing dapat satu suara, hasilnya dua kali lipat,” kata Arjuna.

Dia menduga ada ketidakpamahaman petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) menginput data. “Jika tidak ketemu persoalannya, maka dalam rapat pleno di kecamatan diputuskan penghitungan suara ulang,” kata Arjuna.

“Dibuka lagi kotak suaranya. Dicermati lagi. Satu per satu surat suara dicocokkan dengan C1,” kata Arjuna.

Dia belum menemukan indikasi penggelembungan suara untuk caleg tertentu. Jumlah suara yang bergeser tidak sampai ratusan. “Hanya salah input dari KPPS,” katanya.

Kordiv SDM dan Partisipasi Masyarakat, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sleman, Indah Sri Wulandari mengatakan salah input terjadi karena petugas KPPS bingung. Ada pemilih yang mencoblos logo partai dan nama caleg.

Jika dicoblos nama caleg dan logo partai, maka suara dihitung masuk caleg. Namun, jika ada dua nama caleg dicoblos dan logo partai juga dicoblos, maka suara itu suara partai.

“Tapi oleh KPPS malah dihitung untuk caleg dan partai. Jadi kotak suara harus dibuka dan surat suara dilihat satu per satu,” kata Indah. (har/iwa/er)