KULONPROGO – Jumlah desa di Kulonprogo yang berstatus desa tangguh bencana (destana) terus bertambah. Setelah Desa Banaran, Galur dan Desa Gerbosari, Samigaluh, destana ketiga yang diresmikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY adalah Desa Bugel, Panjatan.

Desa yang lokasinya langsung menghadap dengan Samudera Hindia itu masuk kategori rawan bencana. Potensi yang mengancam antara lain gempa bumi dan tsunami. Karena itu, gladi lapang yang digelar relawan bersama ratusan warga Desa Bugel berupa simulasi menghadapi tsunami.

Bencana tsunami diawali dengan terjadinya gempa bumi. Warga baik laki-laki maupun perempuan dilibatkan dalam simulasi penanganan bencana yang dipusatkan di halaman Balai Desa Bugel.

Gladi lapang itu mendapatkan perhatian serius dari Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsigaan Bencana BPBD DIY Fauzan. Dikatakan, masyarakat merupakan pelaku utama dalam penanggulangan bencana.

Dengan pengukuhan sebagai destana, Fauzan berharap warga Bugel dapat lebih peka menghadapi ancaman bencana. Mereka diharapkan dapat memahami apa itu bencana. Termasuk saat terjadi gempa dan tsunami. “Pahami bagaimana berada di titik kumpul dan upaya menyelamatkan diri saat bencana,” ingatnya.

Dia berharap, pengukuhan itu hanya langkah awal. Warga maupun relawan di Desa  Bugel agar terus berlatih menghadapi setiap ancaman bencana. “Penguatan kapasitas masyarakat  merupakan upaya strategis menjadikan masyarakat tangguh menghadapi bencana. Masyarakat adalah penerima dampak langsung bencana,” ujarnya, Kamis (25/4).

Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo Ariadi mengatakan, tujuan pembentukan Destana Bugel agar punya  kemampuan mengenali ancaman di wilayahnya. Juga mampu mengorganisasi sumber daya masyarakat (SDM) untuk mengurangi kerentanan.

“Sekaligus meningkatkan kapasitas demi mengurangi risiko bencana,” terang Ariadi.

Pembentukan Destana Bugel ditandai dengan sembilan kali pertemuan di kelas. Dilanjutkan dua kali praktik lapangan. Kemudian diakhiri gladi lapang saat pengukuhan.

Bersamaan itu juga  dibentuk forum pengurangan risiko bencana (FPRB) tingkat desa. Terdiri dari berbagai unsur di desa. Lalu pengkajian ancaman bencana, kapasitas dan kerentanan desa. Penyusunan rencana penanggulangan bencana desa.

Penyusunan rencana kontigensi penanggulangan bencana tsunami. Pembentukan satgas bencana Desa Bugel. Ariadi menjelaskan,  semua destana di Kulonprogo masih berstatus pratama.

Yakni desa yang sudah memiliki upaya awal menyusun kebijakan pengurangan resiko bencana (PRB).  “Kemudian melakukan penyusunan dokumen perencanaan pengurangan bencana,” terangnya. Di Destana pratama juga  membentuk FPRB  dan tim relawan kebencanaan. Tugasnya melakukan pengkajian, manajemen risiko dan pengurangan kerentanan terhadap bencana. (kus/er)