BANTUL – Budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun mengaku  pihaknya tidak menemukan adanya kejadian maupun potensi rusuh di akar rumput sejumlah daerah, pasca pelaksanaan pemilu seperti yang dikhawatirkan banyak pihak.

Dari kegiatannya berkeliling ke belasan kota itu, Cak Nun menyimpulkan sebenarnya potensi konflik politik, bentrok pendukung, dan kegaduhan akibat pemilu tak sampai merembet ke akar ramput. Pancasila semoga bisa dipegang oleh para elite kita. Pendapat masing-masing orang boleh berbeda, yang tidak boleh adalah memaksakan pendapat.

“(Konflik) itu terjadi hanya di kalangan menengah ke atas. Kalau di tingkat masyarakat, sejauh yang kami alami tidak ada masalah,” ujarnya.

Cak Nun menuturkan, selama dua pekan, baik sebelum, saat, dan sesudah pemilu, ia berkeliling ke sedikitnya 15 kota bersama kelompok budayanya, Kiai Kanjeng, untuk memenuhi undangan berbagai kelompok masyarakat.

“Saya dan Kiai Kanjeng keliling ke 15 kota selama dua minggu nonstop. Saat tanggal 17 (waktu pemilu serentak) juga tak libur (mengisi acara),” ujar Cak Nun yang ditemui di kediamannya, Rumah Maiyah, Jalan Barokah No 287, Kadipiro, Kasihan, Bantul, Kamis (25/4).

Dari lawatan itu, ujar Cak Nun, mau tak mau ia jadi ikut mengetahui kondisi di wilayah yang dikunjungi. Sebab secara sengaja atau tidak sengaja, setiap panitia yang mengundang dirinya meminta temanya tentang persatuan, atau memastikan situasi aman pasca pemilu.

Cak Nun menuturkan daerah yang ia kunjungi tidak ada bentrok, kontroversi, maupun konflik fisik. Kalaupun ada polarisasi pilihan politik, Cak Nun memastikan tak sampai mengarah konflik fisik, apalagi perpecahan horizontal.

Ia sendiri melawat ke berbagai daerah seperti Temanggung, Cilacap, Kebumen, dan berbagai wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Kami juga ke Kota Solo yang katanya rawan, ternyata juga tidak rawan. Warganya kompak saja sebagai bangsa Indonesia,”  ujarnya.

Cak Nun memperkirakan konflik yang hanya terjadi di seputar elite saat dan pasca pemilu juga tak akan menular ke bawah. “Ya, mungkin mercon sedikit-sedikit tapi rakyat tak akan terpengaruh lah,” ujarnya.

Di tengah riuh saling klaim kemenangan antarkubu pasangan calon presiden dan wakil presiden, Cak Nun memilih dan mengajak masyarakat tetap memposisikan diri sebagai rakyat biasa. “Rakyat menurut saya juga tidak bingung-bingung amat dengan itu (klaim kemenangan) karena masing-masing pakai datanya sendiri. Mau sujud syukur, mau syukuran ya monggo saja, rakyat juga enggak apa-apa,” ujarnya. “ Tapi apa pun yang terjadi kita tetap bersatu sebagai bangsa Indonesia,”  tambah Cak Nun. (*/laz/by)