PURWOREJO – Wajah Stasiun Wojo berubah total. Dipilih sebagai stasiun pendukung untuk transportasi menuju Yogyakarta International Airport (YAI), Stasiun Wojo bersolek. Lebih mewah. Kian cantik.

BUDI AGUNG, Purworejo

Jalan sempit berbatu menuju Stasiun Wojo yang terletak di Desa Dadirejo, Kecamatan Bagelen, Purworejo, tak ada lagi. Padahal, sepekan lalu, jalan berbatu itu masih menjadi jalan ”utama” menuju stasiun.

Alat berat meratakan batuan kasar untuk bagian dasar. Di bagian atasnya diberi campuran kerikil dan pasir. Lantas, ditindas alat penggiling.

Stasiun yang semula tidak terlalu tampak dari jalan raya Purworejo-Jogjakarta tersebut mulai terlihat. Memang, secara keseluruhan, bangunan stasiun tidak terlihat menonjol. Tertutup pohon besar yang tetap dipertahankan. Pohon tidak ditebang dengan asalan untuk menciptakan keteduhan dan kesejukan.

Mendekati kompleks stasiun, ada sejumlah perubahan mencolok. Jalan lama tetap ada. Tapi, posisinya agak naik. Jalan baru berada di sisi barat atau kiri jalan masuk. Titik ini menjadi gerbang masuk utama menuju stasiun.

Areal parkir diperluas. Diratakan. Tidak miring lagi seperti sebelumnya. Kini areal parkir itu amat rata. Ketinggiannya nyaris sejajar dengan pintu masuk ke kantor kepala stasiun.

Sebelum masuk lebih dalam, Radar Jogja sempat bertemu Kepala Stasiun Wojo Tauvik Bayu Kurniawan. Dia memberikan informasi mengenai beberapa proses pembangunan dan perubahan fungsi bangunan lama yang tetap dipertahankan di kompleks stasiun.

“Semua bangunan lama dipertahankan. Seperti rumah dinas KA sekarang difungsikan sebagai loket dan kafe indoor,” kata Tauvik.

Ya, bangunan lama memang tidak mengalami perubahan sedikit pun. Hanya dirapikan. Malah, lebih rapi dan cantik karena ada pembaruan cat. Kantor kepala stasiun dan operator yang sejajar dengan rel kereta api juga dipertahankan. Tidak ada bangunan baru.

Fokus pembangunan ada di sisi timur. Di mana, ada penambahan gerbang masuk dan ruang keluar penumpang. Cukup luas. Di tempat itu akan ditempatkan beberapa kursi untuk duduk penumpang selama menunggu.

Bergeser ke sisi selatan, bangunan bekas rumah dinas sudah siap dipergunakan sebagai loket. Di sisi depan sebelah kiri ada bantalan kayu. Rencananya, lokasi itu akan dimanfaatkan sebagai kafe outdoor.

Perubahan fungsi terjadi di bagian dapur bangunan lama. Meski tidak diubah secara fisik, pemanfaatannya digeser menjadi toilet khusus perempuan dan difabel. Ada bekas cerobong asap di atas keran-keran air yang telah dibangun di tempat ini.

Di samping toilet, ada sumur tua yang telah ditutup bagian luarnya. Tauvik mengaku, selama ini sumur tua itu tetap digunakan. Air dari sumur tua tersebut biasa dipakai untuk keperluan di stasiun.

“Dulu tampak ngeri. Sekarang sudah bagus,” ucap Tauvik.

Selasar menuju titik kedatangan dan keberangkatan kereta juga terlihat rapi. Selasar dilengkapi peneduh. Ini memudahkan penumpang datang maupun hendak berangkat menuju peron yang telah disiapkan.

Ruangan yang dipakai untuk peron merupakan bangunan baru. Dilengkapi penutup atap. Bangunannya cukup panjang. Posisinya lebih tinggi dibanding kantor. Diharapkan penumpang nyaman saat keluar dan masuk gerbong kereta.

Stasiun Wojo memang disiapkan untuk mendukung operasional minimum bandara YIA. Penumpang kereta api dari arah Jakarta maupun Jogjakarta yang hendak memanfaatkan penerbangan udara diarahkan turun di stasiun ini. Mereka akan diantar menuju bandara menggunakan shuttle yang disediakan Angkasa Pura. Penumpang pesawat yang hendak melanjutkan perjalanan menggunakan kereta, dari bandara akan dibawa ke Stasiun Wojo. (amd/yog/fj)