GUNUNGKIDUL – Tim Nasional Percepatan Pengentasan Kemiskinan (TNP2K) melakukan uji coba pembelian tabung gas elpiji ukuran tiga kilogram dengan sistem biometri, Jumat (26/4). Uji coba itu sebagai penanda bahwa pemerintah pusat serius membatasi pendistribusian tabung gas bersubsidi.

Koordinator Uji Coba TNP2K Ruddy Gobel mengatakan, ada tiga metode yang diuji cobakan. Yakni, menggunakan e-voucher, biometri, dan e-KTP.

”Persiapannya sudah dimulai sejak Desember 2018. Diperkirakan selesai pertengahan Mei 2019,” kata Ruddy di sela uji coba.

Menurutnya, rumah tangga penerima manfaat tabung gas elpiji pada 22 April mendapatkan dana Rp 20 ribu. Ditransfer ke rekeningnya masing-masing. Berbekal rekening dan biometri ini, rumah tangga penerima manfaat bisa membeli tabung gas di berbagai toko yang ikut uji coba.

Seluruh Indonesia, kata Ruddy, uji coba dilakukan di tujuh kota. Salah satunya Kabupaten Gunungkidul.

”Total ada 14.193 rumah tangga yang akan ikut dalam uji coba di 7 lokasi se-Indonesia,” ujarnya.

Dalam uji coba, Ruddy mengungkapkan, penerima manfaat ditransfer kembali pada 2 Mei. Dana tahap kedua itu bisa dimanfaatkan untuk belanja tabung gas melon maksimal 15 Mei.

Menurutnya, setiap toko juga dilatih melakukan transaksi.

”Di Gunungkidul ada 11 titik,” sebutnya.

”Jumlah total penerima subsidi elpiji yang disepakati pemerintah dan DPR sejumlah 25,7 juta rumah tangga,” lanjutnya.

Kepala Dinas Sosial Gunungkidul Siwi Iriani mengatakan, proses uji coba beli elpiji subsidi dengan sidik jari sudah memasuki tahap registrasi. Di mana penerima manfaat elpiji bersubsidi tengah melakukan perekaman data biometri dan know your costumer (KYC) dari PT Bank Mandiri (Persero) selaku mitra sistem biometri.

“Uji coba berlangsung di dua desa. Yaitu, Desa Karangduwet, Kecamatan Paliyan dan Desa Kepek, Kecamatan Wonosari,” ujarnya. (gun/zam/zl)