PEMILU baru saja usai, namun suasana pestanya belum dapat ter-move-on-kan begitu saja, sebelum hasil keputusan final diumumkan. Sementara, hiruk-pikuk media dan para netizen belum dapat terbisukan.

Semua pihak yang berkepentingan saling menampilkan hasil quick count versinya masing-masing, sedang pihak lain yang merasa tersudutkan mulai saling mencari kesalahan lawannya. Seakan tidak ada yang benar, semua saling mejudgment sesuai kepentingannya masing-masing. Padahal seperti yang kita ketahui, kepastian hasil akhir dari KPU, lembaga yang saat ini kita percayai, masih relatif lama.

Namun, dari sini saya, penulis, tidak ingin mempersoalkan hasil quick count tersebut, karena kepastian yang semu itu terkadang menyakitkan. Begitu juga, tidak ingin mengungkit isu-isu kecurangan yang diberitakan marak terjadi, karena itu sifatnya praduga yang hanya akan semakin memperkeruh keadaan.

Di bagian besar dari prosesi Pemilu ini ada satu hal yang bagi saya, penulis, sangat mengecewakan. Dimana sejumlah TPS yang berada di daerah tinggal saya, sebut saja Sleman, banyak ditemui beberapa kekurangan. Adanya kekurangan tersebut menjadikan beberapa kawan seperantauan mengalami kekecewaan, alasannya hanya satu, mereka menjadi salah satu korban dari ketidakpastian.

Pasalnya kawan-kawan saya yang sebelumnya sudah merelakan untuk tidak pulang ke kampung halaman dan memilih untuk mengambil hak pilihnya di tempat perantauan ini, karena keperluan mencari ilmu, dengan mengurus A5 sebagai bukti perpindahan DPT.

Semestinya, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh KPU, bahwa tidak ada perbedaan antara mereka yang menggunakan A5 maupun C6, antara kaum perantau dan penduduk setempat, mereka memiliki hak yang sama, yang dalam arti lain sama dalam hal pelayanannya maupun waktu pencoblosannya.

Namun, fakta di lapangan berkata lain, banyak curahan hati para netizen yang dicurahkan di beberapa sosial media, seperti status WA dan grup-grupnya, mengeluhkan beberapa kali kekecewaan. Pasalnya, mereka yang sudah memiliki kertas A5, yang seharusnya memiliki hak yang sama, oleh petugas TPS nya, diminta untuk mencoblos nanti di jam 12 an, dengan alasan mendahulukan penduduk setempat terlebih dahulu. Beberapa diantara mereka ada yang mengkritisi hal tersebut, sebagian yang lain memilih untuk mengalah dan menuruti saja aturan tersebut.

Curhatan kembali nampak ketika di beberapa status dan grup yang mempersoalkan surat suara yang habis, dengan alasan cadangan surat suara yang sedikit. Akhirnya beberapa dari mereka ada yang mengalah keliling ke setiap TPS di sekitaran mereka, namun alasan yang sama pun muncul, surat suara cadangan sudah habis.

Melihat kasus yang demikian, sebenarnya saya sangat kecewa. Namun, saya tidak ingin memperkeruh suasana, dengan melaporkan beberapa kejadian tersebut, karena itu hanya akan menambah pekerjaan saya, yang mana tugas-tugas kuliah saja pun banyak yang belum terselesaikan.

Saya juga berusaha untuk tidak berprasangka buruk, seperti menyangka adanya kecurangan dan semacamnya, tetapi saya hanya berhusnudzon saja dengan dugaan adanya miskomunikasi saja diantara panitia penyelenggara terkait jumlah surat suara tersebut. Saya hanya kasihan saja dengan beberapa kawan saya yang berusaha merelakan waktunya demi mendapatkan hak pilihnya, namun usaha tersebut berbalas nihil.

Oleh sebab itu, dengan penuh kerendahan hatian, saya, penulis mewakili kawan-kawan saya, memohon maaf kepada seluruh pihak, kepada negara ini, karena di pemilu ini teknis memaksa kami untuk golput. (ila)

*Penulis adalah Mahasiswa yang sedang menimba ilmu di Jogjakarta dan menjadi peneliti di Perhimpunan Mahasiswa Cendikia