BANYAK masjid tidak laksanakan salat Jumat. Pada hari Jumat lalu (26/4). Di Sri Lanka. Bukan takut pembalasan dari umat Kristen. Tapi takut ada kelanjutan bom dari kalangan Islam radikal sendiri. Akibat kecaman umat Islam pada pelaku pengeboman itu.

Salah satu yang tetap menyelenggarakan salat Jumat adalah Masjid Jami’ Colombo.  Itu pun di bawah penjagaan tentara bersenjata. Dan yang salat tidak seberapa. Lebih banyak tentaranya.

Bom bunuh diri Minggu lalu itu memang mengejutkan. Serentak di empat hotel, satu gereja, dan satu perumahan.

Ledakan di perumahan terjadi saat polisi lagi menggerebek perumahan itu. Lima jam setelah peledakan di gereja.

Hotel yang dibom adalah Shangrila, Cinnamon Grand, Kingsbury, dan hotel kecil Tropical Inn.

Intelijen Barat sebenarnya  sudah mengingatkan. Bahkan intelijen India sudah mengirim dokumen tertulis. Dalam tulisan sandi. Yang dikirim 10 hari sebelum kejadian. Sasarannya pun sudah diinfokan: gereja Katolik. Begitulah Harian New York Times mengungkap. Menyiarkan juga dokumen itu.

Pihak keamanan Sri Lanka dinilai abai dalam menerima peringatan itu. Empat hari setelah pengeboman Menteri Pertahanan Sri Lanka mengundurkan diri. Dia memang dianggap yang paling bertanggung jawab. Jelas-jelas mengabaikan peringatan itu.

Logika umum di Sri Lanka memang begitu. Tidak mungkin gereja dibom oleh orang Islam. Hubungan Islam-Kristen di Sri Lanka sangat mesra. Mungkin merasa sesama minoritas. Islam hanya 9 persen di Sri Lanka. Kristen 8 persen.

Kalau toh kadang ada kekerasan adalah antara Budha (70 persen) dan Islam. Atau dengan Hindu (15 persen). Atau kekerasan di antara aliran politik di internal kekuasaan.

Barat memang terus memonitor gerakan ekstremis. Apalagi setelah ISIS dinyatakan kalah total di Syiria. Kota-kota yang dikuasai ISIS sudah ditaklukkan. Para pejuang ISIS tidak punya basis lagi. Meninggalkan Syiria. Menyebar ke mana-mana.

Ada yang kembali pulang ke negara asal masing-masing. Ada yang mencari sasaran lain untuk meluapkan kekecewaan. Menyasar mana saja. Tentu mereka memilih yang banyak konflik di dalam negerinya. Bisa ndompleng kekacauan di situ.

Salah satunya adalah Sri Lanka. Yang pemimpin politiknya baru saja saling sikut. Saling gusur. Saling merebut kekuasaan. Saling menduduki parlemen.

Polisi akhirnya menemukan. Terlambat. Yang mengebom enam gereja dan hotel di Colombo itu adalah Jamaah Tauhid Nasional. Jaringan ISIS di Sri Lanka. Yang latihan fisik mereka di gym di Colombo. Atau dengan cara main sepak bola bersama tim lokal.

Lokasi persiapannya pun diketahui: di Ampara Saithamaruthu. Tidak jauh dari Kota Batticaloa. Yakni kota terpenting di pantai timur Sri Lanka. Yang di zaman dulu pernah jadi ibu kota negara.

Saat polisi menggerebek Ampara terjadi baku tembak. Dan letusan bom. Tapi semua ekstremis di situ berhasil ditangkap. Termasuk wakil ketuanya. Sedang ketuanya sendiri ditemukan jenazahnya: di reruntuhan bom di Hotel Shangrila Colombo.

Sang ketua adalah Mohamad Hasim Mohamad Zahran.

Keradikalannya sudah diketahui sejak belia. Pengurus Masjid Darul Athar pernah kewalahan. “Zahran selalu maunya sendiri. Menafsirkan Quran beda dengan umumnya jamaah,” ujar pengurus masjid itu. Seperti disiarkan media lokal.

Zahran memang bergabung di masjid kampungnya itu. Di kota kecil Kattankudy, pantai timur pulau Sri Lanka. Kira-kira 25 km di selatan Batticaloa.

Posisi daerah ini di balik ibu kota Colombo yang di Pantai Barat.

Kawasan ini sangat miskin. Jarak sebenarnya hanya 120 km dari ibu kota. Tapi untuk ke sana diperlukan waktu 5 jam. Naik mobil. Jalannya kecil dan tidak mulus. Memutar ke pantai selatan dulu. Lalu menyusuri pantai timur ke arah utara.

Akhirnya Zahran terusir dari masjid Athar itu. Mengelana. Beberapa tahun kemudian balik lagi ke Kattankudy. Bikin masjid sendiri. Mengajarkan jalan keras. Kemampuannya berbicara luar biasa. Beberapa anak muda menjadi pengikutnya.

Yang pertama dia musuhi bukan Kristen atau Budha. Melainkan kelompok Islam sendiri. Terutama kelompok penganut sufi. Dalam ceramah-ceramahnya Zahran menyerang kelompok sufi ini. Yang dia sebut sebagai bukan Islam. Kafir.

Pernah Zahran mengadakan demo ke masjid kelompok sufi. Dua tahun lalu. Dengan membawa pedang. Satu orang terluka. Pengikut Zahran ditangkap. Tapi Zahran sendiri kabur.

Setelah itu Zahran mulai menyasar kuil Buddha. Mencoreti patung-patung Buddha.

Polisi menamakan kelompok Zahran ini sebagai Jamaah Tauhid Nasional.

Tidak disangka kalau akhirnya Zahran juga menyerang gereja. Bukan hanya menyerang. Tapi meledakkan bom bunuh diri. Di hari Minggu pagi. Di hari suci Easter pula. Di saat jemaat lagi menjalankan kebaktian mereka.

Juga menyerang hotel-hotel, termasuk Hotel Shangrila. Total sekitar 260 orang meninggal dunia.

Guru-guru Zahran kaget. Kok nama muridnya itu yang disebut sebagai dalang bom bunuh diri terbesar di Sri Lanka.

Para guru masih ingat saat Zahran masuk sekolah Jamiatul Falah di Kattankudy. Umurnya, ketika itu, 12 tahun. Berarti setelah tamat SD.

Di madrasah berlantai dua bercat merah muda itu Zahran masuk kelas tahfidz, menghafal Quran. Para guru mengenangnya sebagai anak cerdas. Tapi tiba-tiba Zahran pergi. Entah ke mana. Orang tuanya bertanya ke pengurus madrasah. Tapi tidak ada yang tahu.

Sang ayah dikenal orang yang sangat miskin. Mempunyai anak empat orang. Pekerjaannya jual bungkusan makanan yang dijajakan di jalan-jalan. Orang setempat, menurut wartawan lokal di sana, juga mengenalnya sebagai pencopet atau pencuri kecil-kecilan. Sebagai pekerjaan sambilan.

Begitulah. Media lokal sangat ramai menulis sosok putra daerah mereka. Yang jadi sumber tulisan ini.

“Zahran itu ibarat domba hitam yang lepas,” ujar gurunya seperti dikutip media di sana.

Domba hitam adalah istilah untuk jamaah yang penuh dosa. Atau jamaah yang aneh. Yang selalu jadi bahan cemoohan.

Domba hitam itu kini tidak hanya lepas tapi juga berkeping. (yog/rg)