GUNUNGKIDUL – Sebagian petani di Kabupaten Gunungkidul diselimuti rasa waswas. Meski, tanaman kedelai mereka segera memasuki musim panen. Penyebabnya, panen raya kedelai kali ini dihantui dengan anjloknya harga.

Budiono, seorang petani di Kecamatan Playen memperkirakan musim panen kedelai sekitar akhir bulan Mei hingga awal Juni. Lantaran para petani di Bumi Handayani serempak menanam pada Februari hingga Maret.

”Informasinya, ada 2.007 hektare se-Gunungkidul yang ditanami kedelai,” jelas Budiono, Minggu (28/4).

Budiono optimistis hasil panen raya kali ini melimpah. Sesuai dengan harapan petani. Tanaman kedelai varietas Anjasmoro miliknya, contohnya. Rata-rata per kepek (buah kedelai) menghasilkan sekitar 40 polong.

”Sejauh ini bagus. Tidak ada serangan hama. Tinggi batang mencapai satu meter,” ujar Budiono mengungkapkan setiap satu hektare membutuhkan bibit kedelai sekitar 20 kilogram (kg).

Baginya, harga jual kedelai minimal Rp 8.000 per kg. Hanya, Budiono mengeluh harga kedelai saat panen raya pasti anjlok. Dari itu, dia berharap pemerintah serius menstabilkan harga kedelai di pasaran. Agar para petani tidak merugi.

”Jangan impor. Karena kedelai impor bisa merusak harga,” ingatnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Raharjo Yuwono mengatakan membenarkan bahwa panen raya kedelai di Gunungkidul dimulai bulan depan. Totalnya mencapai 2.007 hektare. Sebagian petani menanam pada Februari. Ada pula yang menanam pada Maret.

”Ada yang menanam Anjasmoro, tapi ada juga yang ikut program swadaya,” katanya.

Dia menargetkan, Kabupaten Gunungkidul menghasilkan 6.000 ton pada tahun ini. Dari lahan seluas 5.000 hektare.

Ketika disinggung mengenai harga ideal kedelai, Yuwono menyebut Rp 8.000 per kg. Namun, Yuwono mengaku tidak bisa berbuat banyak ketika pemerintah pusat membuka keran impor. Kebijakan impor kedelai tidak hanya memengaruhi harga kedelai di Gunungkidul. Melainkan juga se-Indonesia.

”Petani inginnya ya tidak ada impor,” tambahnya. (gun/zam/zl)