MAGELANG – Upaya membuat beda kegiatan Grebeg Gethuk terus dilakukan Pemkot Magelang. Hal ini sesuai komitmen Wali Kota Sigit Widyonindito yang ingin selalu ada perubahan. Sehingga kegiatan yang beberapa tahun terakhir mengiringi perayaan HUT Kota Magelang ini tidak monoton.

“Hari ini, kami adakan prosesi Grebeg Gethuk rangkaian Hari Jadi ke-1.113 Kota Magelang. Seperti biasanya Grebeg Gethuk setiap tahun diselenggarakan. Jelas tiap tahun berbeda. Harapan saya tidak monoton, makin ada perubahan,” kata Sigit saat diwawancarai wartawan di Kantor PDAM Kota Magelang, kemarin.

Masyarakat sendiri merasa prosesi Grebeg Gethuk kemarin tidak banyak perubahan dari biasanya. Mereka yang menangkap momen acara itu hanya di Alun-Alun Kota Magelang akan merasa datar-datar saja. Mengingat nyaris tidak ada pengisi acara yang berbeda, selain berupa iring-iringan pejabat dan gunungan, yang dilanjutkan sendratari kolosal Babad Mahardika dan “rayahan” getuk.

“Biasa saja. Tidak banyak perubahan dibanding tahun kemarin. Selain iring-iringan pejabat dari Kantor PDAM dan iring-iringan gunungan tiap kelurahan yang dibuat memutar lebih dari Masjid Agung,” tutur Cahyono dari Magelang Utara.

Tetapi hal ini dibantah sutradara sendratari kolosal Babad Mahardika Gepeng Nugroho. Menurutnya, justru dia merasakan ada perbedaan yang mencolok dalam kegiatan tahun ini. Karena Grebeg Gethuk saat ini sudah seperti budaya, bahkan adat dalam prosesi perayaan HUT Kota Magelang.

“Konsepnya sudah jadi. Grebeg Gethuk ya gambarannya seperti ini. Perubahannya dari tidak ada, sekarang menjadi ada. Bahkan sudah menjadi budaya dan adat. Soal isian acaranya, dinamis. Untuk sendratari kolosalnya sudah ditingkatkan dari pendekatan artistik, dinamika berkarya hingga kreativitasnya. Itu bisa dilihat dari pola geraknya dan artistik iringan musiknya,” jelasnya.

Menurut Gepeng, perbedaan lain adalah prosesi kegiatan yang tidak lagi terpusat di Alun-Alun. Karena sebelumnya ada Sendratari Serat Kekancingen di lokasi Prasasti Mantiasih, Meteseh, yang menunjukkan keberadaan awal Kota Magelang. Dilanjutkan di Kantor PDAM yang dibentuk sedemikian rupa mirip sebuah candi, di mana pada titik ini wali kota menerima replika prasasti Mantiasih. Setelah itu baru kegiatan Grebeg Gethuk di alun-alun.

“Dengan terpecahnya kegiatan di tiga titik ini, masyarakat maupun pengisi acara bakal bisa merasakan bagaimana dinamika prosesi terbentuknya Kota Magelang secara utuh. Tidak sekadar rayahan gethuk,” ungkapnya.

Masyarakat sendiri kemarin berebut gunungan gethuk, gunungan lanang dan wedok  seberat  dua kuintal. Gunungan gethuk lanang setinggi 3,5 meter, dan gunungan gethuk wedok 2,5 meter. Gethuk yang diproduksi secara tradisonal maupun pabrikan itu dibuat gunungan.

“Dua gunungan gethuk ini dibuat sejak habis Magrib sampai tadi jam 06.00. Gunungan gethuk lanang setinggi 3,5 meter digotong 10 orang, sedang gunungan gethuk wedok 2,5 meter digotong 8 orang,” kata Bejo, pembuat gunungan gethuk.

Sepertinya, sisi menarik kegiatan ini justru saat 17 gunungan palawija dari 17 kelurahan masuk lokasi Alun-Alun. Setiap kelurahan menampilkan kreasi masing-masing dan tidak sedikit yang membawa misi tertentu. Salah satunya, Kelurahan Wates yang membawa cerita siklus pertanian dari proses menanam, mengusir hama, hingga memanen. Selain gunungan palawija, kelurahan ini pun menyajikan aksi teatrikal tikus yang seolah mengganggu proses tanam padi.

“Kami angkat pertanian karena memang di Wates masih ada warga kami yang menjadi petani. Kami dandani anak-anak muda bertopeng tikus, seolah menjadi hama bagi tanaman padi. Lalu ada juga ibu-ibu yang dandan ala Dewi Sri, dan dandanan yang lain,” tandas Lurah Wates Rafi. (dem/laz/zl)