KULONPROGO – Rencana operasional minimum Yogyakarta International Airport (YIA) hari ini sudah pasti batal. Presiden Joko Widodo tak akan hadir untuk meresmikan bandara di Temon, Kulonprogo, itu. Operasional bandara pun ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Kendati demikian, juru bicara proyek pembangunan YIA PT Angkasa Pura (AP) I Agus Pandu Purnama menyatakan, tetap akan menjalankan kegiatan operasional bandara, meskipun tanpa aktivitas penerbangan.

Alasannya, sumber daya manusia untuk operasional YIA telah disiapkan sejak jauh-jauh hari dan telah bekerja sesuai fungsi masing-masing. Sekalipun tak ada kegiatan penerbangan maupun penumpang pesawat yang harus mereka layani sementara ini.

Area keamanan terbatas atau kawasan steril bandara juga sudah diberlakukan dengan izin khusus. Bahkan pegawai PT Pembangunan Perumahan (PP)-KSO yang masih melakukan pekerjaan lapangan di sisi udara (airside) wajib mengantongi izin dari otoritas bandara. “Area bandara diberlakukan seperti laiknya sudah beroperasi,” katanya, Minggu (28/4).

Semua itu semata-mata demi menjawab Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2017 tentang Percepatan Pembangunan dan Pengoperasian Bandara Baru di Kulonprogo.

Berulang kali Pandu mengklaim, YIA pada prinsipnya siap dibuka untuk operasi minimum. Kapan pun.

“Namun sekali lagi saya minta maaf belum bisa menjawab kapan peresmian dilakukan. Dinamikanya tinggi,” dalihnya.

Project Manager Pembangunan YIA Taochid Purnama Hadi mengatakan, progres untuk full operational bandara baru 43 persen. Masih ada pekerjaan airside yang akan dikejar April ini. Seperti penanaman rumput di ujung barat runway. Juga area lain yang memang belum akan dioperasikan. Paralel taxiway, salah satunya. “Area penanaman rumput cukup luas. Ada ratusan hektare,” katanya.

Namun, terminal untuk operasional minimum penerbangan domestik sudah 100 persen. Fasilitas yang awalnya untuk penerbangan internasional diubah menjadi domestik. Di situ telah siap dua gate yang dilengkapi empat garbarata. Dengan apron yang bisa untuk parkir enam pesawat sekaligus. “Kapan saja air line siap bisa langsung main,” ujarnya.

Soal teknis penyelesaian proyek saat bandara beroperasi, jelas  Taochid, mengikuti method of walking plan (MOWP). Artinya, pengerjaan sisa proyek tidak boleh mengganggu keamanan dan kenyamanan penumpang atau pengguna jasa penerbangan.

Disinggung soal tak dipakainya akasara Jawa pada papan petunjuk arah di area terminal, Taochid beralasan, ada ketentuan yang mengaturnya. Yakni tulisan berbahasa Indonesia dan Inggris. Serta tiga bahasa pilihan. Dalam hal ini YIA memakai tulisan berhuruf Arab, Tiongkok, dan Jepang.

” Nuansa jawa sudah kami hadirkan dengan banyaknya ornamen atau lukisan di terminal. Ada lukisan Stasiun Tugu Jogja dan lainnya. Ke depan akan ditambah lagi,” katanya.

Sebagaimana diketahui, penundaan operasional YIA karena urung diresmikan. Selain itu, dua maskapai internasional, Silk Air dan Air Asia menarik diri. Sedangkan maskapai nasional belum siap karena membutuhkan waktu untuk mengurus rute slot penerbangan ke YIA dari beberapa daerah lain.

Terpisah, Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo mendorong pemerintah pusat segera meresmikan YIA. Sebagaimana pernyataan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang datang ke Kulonprogo beberapa waktu lalu. Keduanya menyatakan YIA layak untuk operasi. “Kami tetap mendorong agar YIA bisa segera dioperasikan, meski masih menunggu perkembangan lebih lanjut,” ucapnya.

Dari pantauan Radar Jogja, personel operasi bandara telah menempati pos kerja masing-masing. Termasuk para pegawai yang baru direkrut. Di antaranya, petugas aviation security (avsec), cleaning service, dan lainnya. (tom/yog/rg)