SLEMAN – Tradisi ruwahan di bulan Syaban, dengan mendoakan para leluhur masih dilestarikan warga di Pedukuhan Tanjung Sari, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman. Dilaksanakan di makam Dusun Josari okeh warga masyarakat ahli waris makam dusun Josari yang tergabung dalam Pagyuban Sapto Sekar Rinonce.

Dari cerita, makam ini sudah cukup tua dan merupakan makam dari dua prajurit Pangeran Diponegoro. Yaitu Nyai Naladangsa dan Nyai Djokerti yang merupakan pendiri permukiman kampung Kandangsari.

“Selain itu juga dimakamkan dua orang tokoh musafir yaitu Nyai Kanthong dan Nyai Prembun,” kata Kepala Dukuh Tanjungsari Jamin HS di sela kegiatan ruwahan, Senin (29/4).  Mereka berempat menyebarkan ajaran Islam di sekitar wilayah kampung Kandang Sari, Tegalmindi, Banjarsari, Tempelsari, Josari atau Karang Tancep serta wilayah Kencuran.

”Dalam perkembangannya tradisi ruwahan merti makam dilaksanakan secara bersama sama,” kata sesepuh dari Josari Suparno.  Kegiatan Ruwahan Makam Josari 2019 dilaksanakan mulai Minggu sampai dengan Selasa ( 28-30/4) dengan menggelar, ‘Pelangi Budaya Religius’, dengan agenda kegiatan yaitu bersih makam, kirab dan pawai Bregodo,pentas Seni Jathilan Turonggo Mudho Sekti dari dusun Josari dan juga pentas seni Ketoprak Suko Budoyo dari dusun Kandang Sari. “Pada selasa(30/4) dilaksanakan pengajian oleh Muchamad Nur Charir dari Pengasih Kulon Progo dan ditutup dengan gelaran wayang kulit oleh Dalang Ki Purwoko,” kata Ketua Panitia Ruwahan Jumbadi.

Acara ruwahan dibuka secara langsung oleh Kepala Desa Sukoharjo Hadi Subronto. Dalam sambutannya Subronto mengajak masyarakat untuk terus nguri−nguri tradisi dan budaya Jawa yang adiluhung. “Kita harus bangga dengan kebudayaan kita, Anda lihat sendiri ada warga negara dari Eropa yang antusias mengikuti acara ini,” kata Bronto. Dalam kirab bregodo juga dilaksanakan tradisi rayahan gunungan dan penyerahan pusaka kepada juru kunci makam Josari. (obi/a2/pra/er)