KULONPROGO – Sebanyak 23 produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dari empat kabupaten dan satu kota se-DIJ mulai dipajang di Yogyakarta International Airport (YIA) Temon, Kulonprogo. Produk yang ditampilkan mewakili kekhasan tiap daerah.

Menempati stan yang terlihat sendirian di ujung ruang tunggu terminal, banyak produk UMKM yang dipajang dan terbagi menjadi tiga kategori produk unggulan, pertama busana, kerajinan, dan produk makanan. Dinas Koperasi dan UKM Pemprov DIJ mengemas stan ini dengan nama Galeri Jogja (GJ). Produk-produk unggulan dari 23 UMKM yang mayoritas berasal dari Kabupaten Kulonprogo dan beberapa dari Yogyakarta telah terpajang meskipun belum ada penumpang pesawat yang belanja.

Mendekat ke stan GJ, akan disambut dengan tiga manekin terbalut busana batik. Lebih masuk kedalam GJ, maka ada ratusan item produk UMKM. Busana batik tentu masih jadi unggulan produk yang ditawarkan.

Craft juga banyak, ada replika gamelan mini lengkap, sebagian, atau beberapa bagian saja. Semua terbungkus kaca. Ada lagi jam tangan kayu dengan gelang kain lurik. Kain lurik tampak di sana sebagai bahan dari kerajinan boneka hingga dompet. Mereka juga menawarkan topeng khas dari kayu.

Produk makanan tak kalah variatif,  ada cokelat pegagan, teh samigiri, kopi merk Starprog, sambal Nyos, hingga Caping dari kata kacang emping dan banyak lagi produk dari Bantul, Sleman, Gunungkidul dan Kota Jogja.

Sejak awal, GJ didesain, salah satunya dengan membeli oleh-oleh atau buah tangah khas Jogja. Yang tidak perlu jauh-jauh dan bisa didapatkan di Galeri Jogja saja. “Semua yang terpajang disini mewakili Jogjakarta. Intinya mereka bisa mendapat produk khas Jogja tanpa harus keliling-keliling,” ucap Koordinator GJ Bandara YIA, Aprilia Indah Sari, Rabu (1/5).

Produk UMKM yang terpajang di YIA berbeda dengan yang berada di pasaram. Misal, ada gudeg yang dikemas dalam kaleng sebesar kaleng susu kental manis. Keripik juga dikemas dalam kaleng.Harganya cukup variatif, berkisar antara belasan ribu hingga jutaan rupiah. Kain dan busana berada di rentang Rp 150.000 hingga yang harganya jutaan Rupiah. Kerajinan tangan sepertu topeng harganya antara Rp 500 ribu hingga Rp 4,5 juta.“Miniatur gamelan ini satu set Rp 2 juta” ucap Rian Wicaksono, Pramuniaga GJ.

Ditambahkan, GJ sudah mulai buka sejak 29 April 2019. Sebanyak 10 pramuniaga dipekerjakan selama 12 jam, mulai pukul  07.00 sampai 19.00. “Nanti kalau sudah ramai bisa panjang sampai malam,” ucapnya.

Meski belum ada penumpang, GJ tetap saja diminati, terutama melayani para pegawai AP I yang telah mulai operasi YIA sejak 29 April 2019 lalu.  Produk yang paling laku yakni batik motif gebleg renteng. “Batik gebleg renteng paling banyak dicari, tiga hari dibuka banyak yang cari, kebanyakan ya pegawai AP I,” ucapnya. (tom/pra/fj)