JOGJA – Ada sejak 1996, mulanya Sekolah Tinggi Senirupa dan Desain (STSRD) VISI Indonesia bernama LPK Visi Jogjakarta. Lalu, lambat laun berubah menjadi Akademi Desain Visi Yogyakarta (ADVY). Lantas pada 2008 mulai berkembang dan berubah menjadi Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain (STSRD) Visi Indonesia.

Adapun program studi yang dimiliki STSRD Visi yakni Diploma III (D3) dan Strata 1 (S1) Desain Komunikasi Visual (DKV). Pada dasarnya ilmu yang diajarkan dalam kedua program studi itu sama. Perbedaannya, untuk S1 berupaya mendidik mahasiswa menjadi para kreatif muda yang berwawasan luas. Hal itu ditunjang kemampuan riset untuk pengembangan konsep desain berdasarkan teori-teori yang diajarkan.

Sedangkan untuk D3 lebih ditekankan pada praktik. Tujuannya untuk mempersiapkan para praktisi desain komunikasi visual yang kreatif, terampil, dan handal. Hal itu pun sesuai kebutuhan masyarakat. Namun pada dasarnya kedua prodi itu fokus pada target audiens.

“Kalau goal-nya anak S1 itu intinya mereka bisa memimpin projek desainnya. Yakni seperti art director,” ujar Ketua Prodi DKV Visi Indonesia Dwisanto Sayogo saat ditemui Radar Jogja (10/4). Sedangkan untuk mahasiswa D3 diarahkan untuk menjadi semacam animator. Peluang mahasiswa D3 di dunia kerja diakui juga tak bisa terlepas dari mahasiswa S1. Oleh sebab itu, tetap ada kolaborasi dalam menunjang ilmu pengetahuan mahasiswa.

Lebih lanjut Sayogo mengatakan, STSRD ingin membentuk mahasiswa yang tak hanya mampu menciptakan DKV kreatif, tapi juga aplikatif. Serta mampu memberi sumbangsih positif dan bermanfaat bagi masyarakat luas dengan sifat-sifat humanis. Khususnya dalam bidang pariwisata dan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah), tak hanya di Jogjakarta, tapi juga di Indonesia.

Tujuan-tujuan itulah yang diimplementasikan dalam dalam slogan STSRD Visi berbunyi Creativity for Positive Changes. Ada pun bentuk nyatanya diwujudkan dalam program perancangan komunikasi visual desa wisata di Jogjakarta. Atau pun perancangan komunikasi visual sentra desa kerajinan di Jogjakarta. “Jadi ada yang bentuknya branding, logo. Hampir seperti KKN (kuliah kerja nyata), tapi membuat karya-karya seperti itu,” ungkap Sayogo.

Di situ pula karya-karya DKS STSRD Visi memiliki nilai-nilai humanis yang kental. Keberadaan warga atau masyarakat sebagai klien itu pula yang membedakan DKV dengan seni murni lainnya. Mahasiswa diajak dan diajarkan untuk mengenali klien dari sisi humanis, dinilai menjadi keunggulan STSRD Visi.

Ada pun beberapa mata kuliah yang diajarkan untuk Prodi S1 DKV meliputi Fotografi Desain. Dilaksanakan secara langsung di studio foto model di lantai teratas kampus. Lalu ada mata kuliah Ilustrasi Manual. Sedangkan untuk D3, ada mata kuliah Gaya Desain Grafis, yang menjadi salah satu unggulan. Serta mata kuliah aplikatif dan kreatif lainnya.

Para mahasiswa pun dibimbing oleh para pengajar atau dosen yang ahli dalam bidang masing-masing. Tak hanya itu, untuk menunjang kemampuan para mahasiswanya, STSRD Visi juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Salah satunya dengan Inspidea Malaysia. “Kami sudah ada tiga angkatan yang magang di sana,” tutur Sayogo.

Dia pun berharap minat anak terhadap prodi DKV semakin banyak. Melihat peluang dan kebutuhan akan prodi itu juga semakin tinggi. “Berharapnya dengan kuliah di sini akan kami  didik dan kami  latih, sehingga mahasiswa punya bekal tentang ilmu DKV yang baik,” katanya. Sehingga ketika para mahasiswa lulus, bisa memberi kontribusi positif kepada masyarakat. (cr9/laz/er)