JOGJA – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2019 di Jogjakarta terasa lebih istimewa. Karena Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi hadir di tengah ratusan siswa yang merayakan Hardiknas. Seperti dalam acara membatik di Museum Benteng Vredeburg, Rabu (1/5). Dalam kesempatan itu Mendiknas ikut membatik bersama sekitar seratusan siswa.

Di acara Pekan Pendidikan itu Muhadjir mencanting selembar kain berukuran 60×80 sentimeter persegi yang dipigura. Sedangkan masing-masing siswa membatik di kain sepanjang dua meter.

Muhadjir yang mengenakan pakaian adat Jawa lengkap lantas menyisir seluruh siswa SD dan SMP yang sedang membatik di halaman tengah museum. Dia didampingi dua penari Jawa.

Bisa membatik bareng menteri menjadi kebanggaan tersendiri bagi Juli Ananda. Terlebih bisa mengikuti acara tingkat nasional itu. “Ya senang. Bangga. Apalagi dilihat Bapak Menteri,” ujar siswa SDN Tengklik, Gedangsari, Gunungkidul, itu.

Ananda cukup serius selama acara. Bahkan dia telah menyiapkan desain gambar di kainnya sejak di rumah. Dia membatik dengan motif srikaya, buah khas Gunungkidul.

Guru pendamping siswa SDN Tengklik Rohmawati sangat apresiatif dengan kegiatan itu. Menurutnya, kegiatan membatik bisa menjadi sarana menggali potensi para peserta didik.

“Di sekolah kami ada pengembangan potensi.  Live skill, namanya. Salah satunya membatik, ” ucapnya.

Ketua Penyelenggara Pekan Pendidikan 2019 Sarjilah mengingatkan bahwa batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang diakui dunia. Dalam hal ini UNESCO.  “Kegiatan ini sebagai pembelajaran sejak dini kepada anak-anak. Mereka bisa belajar membatik secara langsung sekaligus mencintai budaya kita,” paparnya.

Pada kesempatan itu Mendiknas mengatakan, mulai tahun ini fokus Kemendikbud digeser dari pembangunan infrastruktur dan prasarana pendidikan menuju pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Sebagaimana ajaran Ki Hajar Dewantara, kata Muhadjir, pendidikan pada dasarnya membangun manusia.  Proses pembangunan dimulai dengan prasarana pendidikan. Menurutnya, prasarana pendidikan merupakan prasyarat pembangunan manusia. Agar bisa tumbuh dan berkembang.

“Seperti menanam pohon. Kalau tidak dimulai dengan adanya tanah yang subur dan dipupuk, maka pohon itu akan gersang dan tidak akan tumbuh. Itulah hakikat dari infrastruktur, ” tuturnya.

Pembangunan SDM diawali dengan revitalisasi pendidikan anak usia dini (PAUD),  pembinaan karakter anak – anak jenjang SD dan SMP,  serta menyiapkan generasi yang memiliki kecakapan dan keterampilan. Agar mereka siap saat masanya harus memasuki dunia kerja. Sehingga bisa menjadi insan yang merdeka dan tidak bergantung kepada orang lain. “Itulah hakikat ajaran Ki Hajar Dewantara,” kata Muhadjir. “Jadi tugas kami menyiapkan anak didik agar siap memasuki dunia kerja. Atau siap melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, “tandasnya. (cr15/yog/rg)