JOGJA – Satu lagi pahlawan demokrasi meninggal dunia. Dia adalah Supardal, 56, petugas linmas. Gejalanya sama dengan yang lain. Kelelahan bertugas saat pemungutan suara Pemilu 2019 pada Rabu (17/4).

ROTUN INAYAH, Jogja

Suasana duka menyelimuti kediaman Supardal, Rabu (1/5). Sosok yang akrab disapa Gandung itu meninggal Selasa (30/4) pagi. Sebelumnya dia sempat dirawat di ruang ICU RS PKU Muhammadiyah Jogja selama enam hari.

Supardal masuk rumah sakit empat hari pasca pencoblosan. Kondisi fisik warga Patangpuluhan itu drop. Selama menjaga TPS 14 di RT 28/RW 5, Patangpuluhan, Wirobrajan, Kota Jogja.

Itu menjadi tugas pertama sekaligus terakhir Supardal sebagai petugas linmas.

Sang anak,  Suep Indri Atmaja, bercerita, Minggu (21/4) badan ayahnya panas dingin. Keluarga lantas membawa Supardal ke rumah sakit. “Kami sekeluarga juga panik jadinya,” ucap Suep.

Karena kondisinya kritis, Supardal lantas dirawat di ruang ICU. Selama enam hari di ICU, kata Suep, kesehatan Supardal sempat membaik. Dia lantas dipindah ke bangsal Sabtu (27/4). “Saat itu sudah bisa makan dan minum. Tapi siangnya ternyata turun lagi kondisinya. Bapak mengalami koma dan masuk ICU lagi hingga meninggal,” ungkapnya.

Di mata keluarga, kata Suep, sang ayah adalah sosok penyemangat. Supardal selalu menomorsatukan keluarga dan masyarakat. Melebihi kepentingannya sendiri. Supardal selalu aktif dalam kegiatan sosial. Hingga dia tergerak saat mendapat kesempatan menjadi anggota linmas. Saat pemungutan suara lalu.

Supardal sangat bangga memakai seragam linmas. Dia pun all out. Meski kondisi kesehatannya sendiri sebenarnya tidak begitu mendukung. “Saat itu (kesehatan Supardal, Red) memang sudah kurang baik,” tutur Suep.

Karena sudah terlanjur mendaftar sebagai petugas linmas, Supardal pun tetap mengemban tugasnya sebagai bentuk tanggung jawab.

“Sejak jauh hari Bapak memang ingin jadi linmas. Sangat bersemangat. Tapi saat hari H pencoblosan kondisinya malah kurang sehat,” katanya.

Kondisi kesehatan Supardal terus menurun seiring beban kerja yang memang membutuhkan kekuatan fisik. Dia berjaga hingga dini hari. Supardal pantang istirahat sebelum acara selesai. “Masak linmas tiduran,” kata Suep menirukan pernyataan Supardal suatu ketika. “Bapak nggak enak dengan petugas kecamatan,” tambahnya.

Sebagaimana keluarga pahlawan demokrasi lainnya, keluarga Supardal juga bakal dapat santunan.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi  telah meminta lurah dan camat setempat untuk berkoordinasi. Untuk memberikan santunan. “Anggarannya dari mana belum tahu. Tapi saya sudah minta paling tidak bisa meringankan keluarga,” katanya.

Di mata HP, petugas linmas sama pentingnya dengan penyelenggara pemilu. Karena linmas selalu siaga mengawal proses pemungutan suara sampai selesai. Juga mengawal kotak surat suara.

“Saya angkat topi atas dedikasi dan loyalitas mereka dalam bertugas. Penuh tanggung jawab. Pengabdian mereka total,” ujarnya. (yog/rg)