JOGJA – Peringatan bagi para dokter untuk tidak mudah memberikan resep obat penenang bagi pasiennya. Bermodalkan resep dokter, Dwi Purnomo nekat berjualan psikotropika. Jenis obat yang dijual oleh pria berusia 32 tahun ini adalah Atarax Alprazolam. Obat yang wajib dengan resep dokter ini memiliki fungsi sebagai penenang.

Kasatresnarkoba Kompol Cahyo Wicaksono mengungkapkan,kecurigaan berawal dari pengembangan kasus sebelumnya. Dimana hasil penyidikan kepolisian mengarah kepada nama Dwi Purnomo.“Pelaku ditangkap 24 April di kawasan Sidomoyo Godean Sleman. Bersama dengannya turut diamankan empat butir pil Atarax Alprazolam,” jelasnya, Rabu (1/5).

Perwira menengah satu melati ini memastikan pemberian resep dokter sesuai prosedur. Hanya saja pelaku justru menyalahgunakan psikotropika golongan IV tersebut. Bukannya dikonsumi, obat penenang ini justru dijual.

Berdasarkan keterangan pelaku, bukan kali ini menebus resep. Pada awalnya pelaku memang memeriksakan diri ke dokter. Obat penenang tersebut, lanjutnya, dikonsumsi sendiri. Hanya saja seiring waktu berjalan, pelaku justru mencari untung dari menjual kembali Alprazolam.

“Dalam pemeriksaan dokter, pasti ada riwayat kesehatan. Pelaku selalu mengeluhkan keluhan yang sama karena memang mengincar jenis obat itu (alprazolam),” ujarnya.

Dari keterangan pelaku, alprazolam dibeli seharga Rp 130 ribu. Dari pembelian tersebut, pelaku Dwi mendapatkan 10 butir obat penenang. Selanjutnya dijual kembali kepada penyalahguna seharga Rp 20 ribu perbutirnya.

Untuk penjualan, Dwi cenderung selektif. Pelaku tidak menjual secara terbuka. Guna mencegah kecurigaan polisi menjual kepada orang yang dikenal. “Selektif agar tidak tertangkap juga. Sesuai pengakuan dan hasil penyidikan memang dijual ke teman yang kenal,” katanya. (dwi/pra/er)