JOGJA – Keberadaan IST Akprind Jogjakarta tidak terlepas dari para pendirinya. Para pendiri baik yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung, berperan dalam pendirian Akademi Perindustrian hingga berubah menjadi IST Akprind, memiliki kontribusi besar dalam kelangsungan lembaga pendidikan tinggi ini.

Hal itu juga senantiasa dipupuk oleh sivitas akademika IST Akprind, agar senantiasa mengingat dan menghargai kepada mereka yang telah berjasa dalam mendirikan dan mengembangkan perguruan tinggi ini. Salah satunya dalam bentuk melakukan ziarah dan tabur bunga kepada tokoh-tokoh pendiri IST Akprind.

Ziarah dan tabur bunga dilaksanakan Selasa (30/4) di Taman Makam Pahawan (TMP) Kusumanegara Jogjakarta. Di tempat ini, salah seorang pendiri yang juga rektor pertama IST Akprind, Kapten Laut (purn) Drs Ir Siswono Oetoyo dimakamkan. Ziarah  dipimpin Ketua Pembina Yayasan Pembina Potensi Pembangunan (YPPP) yang juga salah seorang pendiri IST Akprind HM  Suwardi SE, dan diikuti  pengurus YPPP, jajaran pimpinan IST Akprind, perwakilan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.

Selepas dari TMP Kusumanegara, ziarah dan tabur bunga yang diikuti sekitar 100 orang itu dilanjutkan menuju Taman Wijayabrata,  sekitar 300 meter dari TMP Kusumanegara. Taman Wijayabrata merupakan komplek pemakaman para tokoh pendidikan, di mana Ki Hajar Dewantara dimakamkan. Di kompleks pemakaman ini pula salah seorang pendiri IST Akprind yang juga mantan Ketua Pengurus YPPP Soebardi Partono BSc dimakamkan. Di tempat ini pula berbagai tokoh berperan dalam pendirian IST Akprind seperti Ibu Sri Romdiyani Seobardi Partono, Ki Ir R Soekamto, dan Ki Gondogimono.

Rektor IST Akprind Dr Ir Amir Hamzah MT menyampaikan, ziarah dan tabur bunga menjadi agenda rutin tahunan setiap menjelang pelaksanaan dies natalis. Hal ini dimaksudkkan agar sivitas kademika IST Akprind bukan hanya mengetahui keberadaan para pendiri perguruan tinggi ini melalui cerita dan tulisan sejarah semata. Namun juga mengetahui di mana mereka dikebumikan, serta mengetahui jasa-jasa besar mereka yang bukan hanya diakui oleh IST Akprind, namun juga oleh pemerintah dan negara. (sce/laz/er)