SLEMAN – Atlet pencak silat DIJ dipastikan tak akan ada yang berlaga di SEA Games 2019. Sebab, pesta olahraga se-Asia Tenggara yang akan digelar di Manila, Filipina, itu hanya akan mempertandingkan kelas-kelas seni.

Kondisi ini membawa dampak buruk sekaligus baik bagi atlet-atlet pencak silat DIJ. Dampak buruknya, mereka kehilangan kesempatan berlaga di level internasional. Efek baiknya, mereka bisa fokus mempersiapkan diri pra-PON. Agar kontingen DIJ bisa mengulang memori manis pada PON 2016 di Jawa Barat.

Ya, kontingen DIJ sukses mengakhiri puasa medali emas selama 31 tahun dari cabang olahraga pencak silat pada PON 2016. Setelah Dyah Purnama Sari yang turun di kelas E +56-70 kg mengamankan medali emas.

Menurut Pelatih Pemusatan Latihan Daerah Pencak Silat (Puslatda) DIJ Bambang Mujiono, seluruh atlet yang meraih medali di PON 2016 masuk dalam tim puslatda. Mereka akan kembali diandalkan untuk mengharumkan nama DIJ di Pra-PON. Juga PON 2020 di Papua.

Kendati begitu, Bambang tetap belum berani mamatok target tinggi pada PON. Lantaran hasil dari cabor pencak silat sulit diprediksi. Bahkan di nomor fight sekalipun. Padahal, penilaian dalam nomor ini sudah baku.

”Banyak faktor yang memengaruhi. Apalagi silat sangat subjektif,” jelas Bambang saat ditemui di Hall Bela Diri Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (2/5). (cr12/zam/by)