JOGJA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) DIJ memastikan petugas perlindungan masyarakat (Linmas), yang meninggal seusai bertugas selama pencoblosan juga akan mendapatkan santunan. Mereka termasuk dalam bagian kelompok penyelenggara pemilihan suara (KPPS).

“Iya dapat (santunan), mereka (linmas) termasuk petugas KPPS yang bertugas,” ujar Ketua KPU DIJ Hamdan Kurniawan ketika dikonfirmasi, Kamis (2/5). Dari data yang dimiliki KPU DIJ per 29 April 2019, total ada delapan petugas KPPS dan Linmas yang meninggal di DIJ. Selain itu 24 lainnya masih menjalani perawatan karena sakit. Yang terbaru, petugas Linmas di TPS TPS 14 di RT 28/RW 5, Patangpuluhan, Wirobrajan, Kota Jogja, Suparlan meninggal Selasa pagi (30/4).

Hamdan mengaku instruksi dari KPU RI, semua petugas KPPS dan Linmas yang meninggal dan sakit akan mendapat santunan. Saat ini tiap KPU daerah diminta untuk melakukan pendataan dan kemudian dilaporkan ke KPU RI. Itu sesuai persyaratan dari Kementrian Keuangan. “Besarannya (santunan) berapa dan proses pencairan seperti apa, kami masih menunggu juknis (petunjuk teknis). Yang jelas kami diminta updating data,” ungkapnya.

Banyaknya yang meninggal, membuat puluhan guru besar yang tergabung Rumah Indonesia menyatakan rasa belasungkawa atas penyelenggaran Pemilu 2019. Wujudnya mereka melakukan pengibaran bendera setengah tiang di Kantor Bawaslu DIJ.

Selain itu, kedatangan mereka juga meminta adanya evaluasi menyeluruh. Istilah sukses dalam penyelanggaran Pemilu ternodai dengan meninggalnya ratusan petugas.

“Rata-rata karena kelelahan selama penyelenggaraan pemilu serentak. Mereka harus tetap fokus, tapi di satu sisi stamina mereka juga terforsir. Alhasil kesehatan menurun, ada yang sakit bahkan meninggal dunia,” kata Guru Besar Hukum Tata Negara UII Ni’matul Huda.

Sebagai mengantisipasi terforsirnya kinerja perangkat penyelanggara. Tidak hanya sejak persiapan namun masa rekapitulasi. Terlebih untuk setiap perangkat bisa bekerja lebih dari satu hari. Bahkan dalam beberapa kasus kelelahan hingga bekerja selama seminggu.

“Harapan kami masukan benar-benar ditindaklanjuti. Pemerintah juga wajib memberikan penghargaan kepada para petugas yang gugur. Tentu juga ada santunan baik yang meninggal atau sakit,” ujarnya.

Ketua Bawaslu DIJ Bagus Sarwono mengapresiasi kedatangan para guru besar. Meski pihaknya sebagai pengawas, namun juga turut berkorban. Terbukti ada 27 anggota pengawas yang terbaring sakit selama pemilu.

Terkait santunan, Bawaslu Pusat telah menyiapkan. Hanya saja format santunan masih dalam tahapan pembahasan. Hanya saja timnya secara indipenden telah bergerak terlebih dahulu. Berupa sukarela dari para penggawa Bawaslu DIJ. (dwi/pra/zl)