SLEMAN – Persentase masyarakat untuk melanjutkan studi hingga jenjang perguruan tinggi (PT) di Indonesia masih rendah. Hanya 34 persen. Yang mengagetkan lagi, jumlah sarjana di Indonesia hanya 8,79 persen dari total penduduk.

”Sedangkan untuk gelar master hanya 0,5 persen di tahun 2016,” jelas Treviliana Eka Putri, seorang peneliti Center for Digital Society (CfDS) Fisipol UGM, Kamis (2/5).

Minimnya persentase ini diperparah dengan program studi (prodi) yang dipilih. Menurut Trevi, sapaannya, masyarakat cenderung memilih prodi tradisional. Misalnya, pendidikan dokter, ilmu hukum, manajemen, dan ilmu komunikasi.

”Mereka ingin mengikuti jejak keluarga dan belum tahu ingin melanjutkan ke jurusan apa,” ucapnya.

Padahal, kata Trevi, saat ini sedang memasuki revolusi industri 4.0. Menurutnya, gaung revolusi industri 4.0 juga tak membuat prodi berbau dunia digital dan teknologi diminati. Sebaliknya, prodi berbau kebudayaan asing dan sastra justru mengalami peningkatan 100 persen.

Kendati begitu, Trevi menyebut ada beberapa prodi baru yang diproyeksikan untuk menjawab tantangan revolusi industri 4.0. Di antaranya, bisnis digital, ilmu aktuaria, dan sains aktuaria.

”Itu untuk memenuhi kebutuhan generasi Z yang saat ini telah akrab dengan dunia digital,” tambahnya.

Iradat Wirid, asisten riset menambahkan, informasi perihal jurusan baru harus diperluas. Itu untuk menjaring lebih banyak calon mahasiswa yang tertarik melanjutkan studi.

PT, kata Iradat, juga harus menelurkan berbagai inovasi. Seperti online learning dan distance learning. Itu untuk menjawab kebutuhan mahasiswa.

”Saat ini anak SMP dan SMA melakukan bimbingan belajar online,” jelasnya.

Meski PT telah memperbaiki sistem, Iradat memperkirakan masih ada penduduk Indonesia yang belum menerima pendidikan dengan baik.

”Masih ada sekitar 0,5 persen,” sebutnya. (cr7/zam/by)