BANTUL – Sistem Informasi Desa (SID) dicetuskan pada 2014. Pengelolaan SID diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Demikian benang merah dari diskusi Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya Cuma Proyek Atau Sungguh Bermanfaat. Diskusi digelar di Limasan Griya Jagadhaya, Panggungharjo, Sewon, Kamis (2/5).

Salah seorang peserta, perangkat Desa Nglegi, Gunungkidul, Suroyo mengatakan, bantuan salah sasaran memicu desa Nglegi mematangkan SID. Suroyo mengenal SID sejak 2010.

“Waktu itu, masyarakat komplain mengenai bantuan desa banyak salah sasaran. Untuk menjawab keluhan tersebut, kami harus punya data valid. Yakni lewat SID,’’ kata Suroyo.

Perangkat Desa Murtigading, Bantul, Fatimah Nurhayati mengaku memiliki pengalaman serupa dengan Suroyo. “Pada 2015 tidak ada yang tahu jumlah valid penduduk satu padukuhan. Sehingga sulit membuat peraturan pedesaan,’’ kata Fatimah.

Pada 2016 dia menyadari, SID bisa dimanfaatkan. Digunakan untuk mengangkat potensi desa. “Dari website, kami bisa mempromosikan potensi Murtigading,’’ katanya.

Caranya, lanjut Fatimah, dengan menganalisis data potensi desa. Ternyata desa memiliki potensi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

‘’Dari situ, kemudian kami melakukan pelatihan memasak, kerajinan, dan pelataihan lain,’’ kata Fatimah.

Sedangkan menurut perangkat Desa Balerante, Klaten, Jainu, desanya mulai menerapkan SID setelah terdampak erupsi Merapi. “Waktu itu data pengungsi minim. Jumlah warga, jenis kelamin, lansia, dan anak-anak belum ada datanya,’’ kata Jainu.

Program pemberian bantuan menjadi runyam. Akibat minimnya data yang dimiliki desa.

“Selain itu ada warga yang memanipulasi data. Saat pemerintah memberikan ganti rugi ternak yang mati, banyak warga yang mengaku-ngaku,’’ kata Jainu.

Sejak 2011, Desa Balerante membuat website. Berisikan informasi desa. “Data aset warga dikumpulkan dalam SID. Seperti jumlah ternak, jumlah lansia, masyarakat yang punya sepeda motor, dan peta rawan bencana,’’ kata Jainu. Kelengkapan data membantu masyarakat saat terjadi bencana.

Warga Murtigading, Satini terbantu dengan SID. Berkat SID, bisnis kue adremnya semakin dikenal.

“Oang dari Gunungkidul, Magelang, dan Gorontalo tertarik dengan usaha saya. Karena di website Murtigading ada list pengusaha kecil,’’ kata Satini. (cr16/iwa/fj)