SLEMAN – Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun mencatat, angka kemiskinan di Sleman masih tinggi. Yakni mencapai 8,77 persen. Sedangkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, tingginya kemiskinan pada angka 7,6 persen.

Menurut Muslimatun, persentase angka yang didapatkan tersebut telah dicatat sesuai nama dan alamat tinggal warga Sleman. Sedangkan data BPS, angka yang didapatkan melalui sampel dari seluruh populasi penduduk Sleman.

“Jadi di Sleman itu (angka kemiskinan) masih cukup tinggi,” jelas Muslimatun saat berbicara dalam workshop bertema Orientasi Program Pendampingan Kelompok Lintas Generasi (KLG) untuk Peningkatan Kesejahteraan Lansia di Dinas Sosial Sleman, Jumat (3/5).

Kemiskinan di Sleman, kata Muslimatun, disebabkan semakin banyaknya jumlah warga berusia lanjut. Mereka ini, sudah tidak lagi memiliki pekerjaan. Sehingga mereka menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

Para lansia tersebut juga tidak memiliki penghasilan tetap. Tempat tinggalnya juga sangat tidak layak. Sehingga termasuk dalam kategori orang miskin.

Melalui lembaga sosial dan masyarakat, pelatihan dan pendampingan dilakukan untuk menekan angka kemiskinan. Melibatkan semua lapisan masyarakat.

Muslimatun berharap para lansia mampu bersinergi membangun Sleman dan mengentaskan kemiskinan. “Baik dari pemerintah, masyarakat, maupun lembaga, bekerja sama melakukan tugasnya mengurangi kemiskinan,” ujar Muslimatun.

Dengan upaya yang telah dilakukan pemerintah, Muslimatun berharap pada 2021, angka kemiskinan turun menjadi delapan persen.

Sementara itu, pendampingan kepada KLG telah dilakukan oleh lembaga sosial sejak 2018. Direktur Yakkum Emergency Unit (YEU), Sari Mutia Timur menjelaskan, bersama pemerintah dan masyarakat, pihaknya melakukan pendampingan di lima desa. Semuanya di Kecamatan Sleman.

Langkahnya berupa pelayanan kesehatan lansia. Mereka sering bermasalah dengan kesehatan. Selain itu, pemberdayaan ekonomi juga dilakukan. Agar lansia bisa diberdayakan.

“Program tersebut hanyalah stimulan. Nantinya, para lansia dan keluarganya bisa diberdayakan,” kata Sari.

Pelatihan kerja kerap dilupakan untuk lansia. Nantinya akan diterapkan. Karena selama ini, pelatihan kerja cenderung diberikan kepada warga usia produktif.

Selama satu tahun berjalan, dampak program yang telah diupayakan masih belum terlihat. Namun kemajuan bertahap kian terlihat. Seperti halnya lansia yang semula tidak berperan dan bersuara, kini terlibat dalam program tersebut.

Monitoring masih terus dilakukan, dan memberikan program yang tepat. Terus kami upayakan bersama masyarakat,” ujar Sari. (cr7/iwa/fj)