BANTUL – Mereka bukan asal Indonesia. Yang satu, Adriana María Olarte dari Kolombia. Satunya lagi, Sandra Bonk asal Jerman. Keduanya aktivis peduli lingkungan. Mereka hadir di Bantul khusus untuk ‘memberi pencerahan’ pentingnya mengelola sampah.

IWAN NURWANTO, Bantul

Suasana Omah Guyub di Kasongan, Bantul, Minggu (5/5) terasa beda. Ada beberapa bule tampak di sana. Kehadiran mereka untuk mengisi workshop. Tentang tata cara mengelola sampah. Mulai mengolah sampah menjadi kompos hingga membuat briket dari botol plastik. Peserta workshop adalah para seniman dan ibu rumah tangga.

Jangan bayangkan workshop itu digelar di ruang tertutup ber-AC. Lalu pengisi acara dan pesertanya berpakaian rapi resmi. Ditambah proses tanya jawab yang serius. Suasana seperti itu sama sekali tak tergambar dalam workshop, Minggu (5/5). Malah sebaliknya. Suasana terasa cair. Terkesan serius, tapi santai. Pembicaranya saja hanya mengenakan kaus. Acaranya di luar ruangan. Pembicara duduk bersila di lantai teras rumah panggung. Sedangkan pesertanya lesehan di halaman samping rumah. peserta workshop juga tampak santai. Sebagian juga hanya mengenakan kaus.

Warga Kasongan sebenarnya sudah sering mendapat pengarahan tentang mengelola sampah. Naun, kehadiran bule di acara workshop membuat sensasi lain. Terlebih mereka yang dari luar negeri justru sangat peduli dengan kondisi lingkungan Indonesia. Khususnya di Bantul. “Plastik sudah menjadi monster dan akan menjadi lebih buruk jika kita tidak menguranginya dari sekarang,” ungkap Sandra.

“Seperti kita tahu, plastik membutuhkan waktu 300 tahun untuk benar-benar terurai,” tambah bule Jerman yang fasih berbahasa Indonesia itu.

Menghilangkan budaya pemakaian plastik memang tidak mudah. Bahkan sangat sulit. Satu hal yang disesalkan Sandra karena di Indonesia belum ada aturan yang cukup tegas untuk mengurangi pemakaian plastik. Dia lantas membandingkan dengan negara asalnya. Di Jerman, kata dia, penggunaan plastik sekali pakai benar-benar dilarang.

Masalah ini kian parah dengan minimnya pemahaman masyarakat terhadap dampak negatif sampah plastik. “Perusahaan plastik di Indonesia lebih mencari keuntungan tanpa mau tahu akibatnya pada anak-cucu,” beber Sandra.

Membiasakan diri menggunakan kantong kain sebagai pengganti kresek bisa menjadi solusi. Untuk mengurangi sampah plastik. “Kantong kain bisa digunakan berulang kali,” kata Adirana, saat mendapat giliran bicara.

Adriana menegaskan, memelihara bumi merupakan tanggung jawab bersama. Bukan hanya jadi kewajiban para aktivis pecinta alam. Menurutnya, jika satu negara terdampak sampah, hal itu akan berdampak pada negara lainnya.

“Kami ingin membantu, karena ini bumi kita. Bukan masalah saya tidak berasal dari Indonesia. Indonesia dan seluruh bumi juga rumah saya,” ujarnya.

Adriana mengatakan, sampah plastik menjadi penyebab kerusakan alam. Itu terjadi akibat perilaku manusia yang masih tidak bisa berhenti menggunakan plastik.

“Sekarang kita lihat, banyak ikan yang mati karena orang membuang sampah plastik di laut. Hal itu membuktikan kalau sampah itu berbahaya dan meracuni makhluk hidup,” katanya.

Kehadiran Sandra dan Adriana disambut antusias oleh fasilisator Omah Guyub Andy Amrulloh. Dia pun mendorong warga Bantul, khususnya, untuk mengurangi sampah plastik mulai sekarang. “Orang luar negeri saja peduli dengan lingkungan kita. Seharusnya kita harus lebih dari itu,” tegasnya. (yog/fj)