JOGJA – Jelang puasa Ramadan 1440 Hijriah, PT Jasa Raharja (Persero) cabang DIY menggelar bakti sosial, Sabtu sore (4/5). Aksi sosial, yang dipelopori kalangan millenial Jasa Raharja tersebut digelar di Pondok Pesantren Al-Muhajirin Muhammadiyah, Kecamatan Patuk, Gunungkidul, DIY.

Milenial Jasa Raharja yang tergabung dalam wadah Spirit of Millennials (SOM), memberikan bantuan sembako kepada pondok pesantren terabut. Setiap bulan, SOM secara berkelanjutan menggelar aktivitas sosial kepada tengah masyarakat.

“Kalangan millenial Jasa Raharja SOM-lah yang memiliki ide dan gagasan acara,” kata Kepala PT Jasa Raharja (Persero) DIY, Akhdiyat Setya Purnama pada acara pengajian dan bakti sosial yang diikuti pengasuh, santri, santriwati Pondok Pesantren Al-Muhajirin Muhammadiyah.

Akhdiyat menjelaskan, Jasa Raharja merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negera (BUMN). Tugasnya menghimpun dan mengelola dana dari masyarakat melalui Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ).

“Bila ada masyarakat yang mengalami kecelakaan lalu lintas, Jasa Raharja akan memberikan santunan. Tentu Pondok Pesantren Al-Muhajirin Muhammadiyah sesuai aturan yang berlaku,” tutur Akhdiyat.

Akhdiyat mengingatkan, angka kecelakaan banyak dialami usia produktif. Yakni, antara usia 15 tahun hingga 35 tahun. Karena itu, ia meminta kepada santri yang belum cukup umur dan tidak memunyai surat izin mengemudi (SIM) agar tidak mengemudikan sepeda motor.“Bagi yang sudah punya SIM, tolong jangan lupa kenakan helm dan taati aturan rambu lalu lintas,” pesan Akhdiyat.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Muhammadiyah, Daliyo mengatakan, pondok pesantren yang dikelolanya berdiri pada Juli 2011. Awalnya, ada sejumlah tokoh masyarakat merasa prihatin ada banyak siswa SD yang tidak dapat melanjutkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi.“Dari situ, di buatkan pondok pesantren sekaligus sekolah setingkat SLTP/MTs,” jelas Daliyo.

Seiring berjalannya waktu, pengelola dapat membangun gedung. Tentu, gedung ini dibangun atas bantuan donatur dan masyarakat setempat secara sukarela. “Santri dari keluarga kurang mampu tidak dipungut biaya. Sedangkan santri dari keluarga mampu pun dibebaskan membayar sesuai dengan kemampuannya, seikhlasnya. Saat ini jumlah santri ada sekitar 70-an anak,” papar Daliyo. (*/pra/zl)