SLEMAN – Beragam cara dilakukan untuk menyambut Ramadan. Membersihkan masjid hingga menggelar pawai. Dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur kembali berjumpa Ramadan.

Masyarakat sekitar Masjid Jami’ Pathok Negoro Plosokuning, Minomartani, Ngemplak punya cara sendiri menyambut Ramadan. Menggelar Kirab Gerobak Sapi.

Sekitar 15 gerobak sapi dari seluruh DIJ ikut kirab. “Tahun ini tema kirabnya 1.000 Santri Songsong Ramadan,” ujar Takmir Masjid Jami’ Pathok Negoro Plosokuning, Kamaludin Purnomo, Minggu (5/5).

Dikatakan, acara tersebut membangkitkan semangat anak-anak agar bisa merasakan nuansa Ramadan. “Kebanyakan yang ikut (kirab) anak-anak yang nyantri di sekitar Pathok Negoro,” kata Kamaludin.

Kegiatan menyambut Ramadan tersebut digelar setiap tahun. Biasanya diisi dengan kesenian bernuansa islami. “Yang berbeda, kali ini keseniannya semakin banyak. Agar lebih semarak,” kata Kamaludin.

Selain kirab gerobak, juga ada kesenian badui, tari sufi, dan kubro. Sebagai salah satu bentuk pelestarian budaya nusantara.

Kirab gerobak sapi, kata Kamaludin, juga mempererat silaturahmi masyarakat. Apalagi, warga sempat berbeda pilihan dalam Pemilu 2019.

“Mempersatukan masyarakat. Habis Pilpres, ada masyarakat yang berbeda pilihan. Saatnya disatukan kembali di bulan Ramadan yang penuh berkah,” ungkap Kamaludin.

Warga tumpah ruah di lokasi kirab gerobak. Mereka sumringah dan antusias menyaksikan belasan gerobak sapi ditumpangi para santri dikirab keliling desa.

“Semoga semakin semangat menyongsong Ramadan. Dan siar Islam semakin berkembang,” harap Kamaludin.

Salah seorang santri yang ikut naik gerobak sapi, Faqih Al Akmal Muzari, 9 tahun, mengaku senang. Santri Pondok Pesantren Al Mudzakir, Plosokuning tersebut belum pernah merasakan naik gerobak. “Keliling kampung naik gerobak sapi. Seru,” kata Faqih.

Siswa kelas 2 sekolah dasar tersebut mengatakan, sebelumnya sering mengikuti pawai. Dia berniat melaksanakan puasa sebulan penuh. “Semoga tidak bolong (puasanya),” kata Faqih. (har/iwa/by)