SLEMAN – Hingga akhir April 2019, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mencatat ada 302 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Sleman. Dari jumlah itu, tidak ada penderita yang meninggal.

“Jika dibandingkan tahun lalu pada bulan yang sama, tahun ini jumlahnya meningkat,” kata Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Dulzaini, Senin (6/5).

Dikatakan, peningkatan kasus DBD disebabkan siklus empat tahunan. Dan 2019 masuk siklus empat tahunan tersebut. “Tahun 2019 ini masuk tahun keempat, peningkatan jumlah kasus tersebut merupakan buktinya,” kata Dulzaini.

Dari 302 kasus DBD tersebut, Kecamatan Depok dan Gamping merupakan kecamatan terbanyak ditemukannya kasus DBD. “Di musim pancaroba membuat adanya genangan air yang menjadi tempat indukan nyamuk selalu ada,” katanya.

Sebagai antisipasi, dia mengatakan, pihaknya bersama Tim Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) DBD Sleman rutin melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Untuk memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk.

Kepala Kelompok Data dan Informasi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi, Djoko Budiyono mengatakan, secara umum saat pancaroba berpotensi terjadi hujan. Pada siang, sore, dan menjelang malam. Cuaca di DIJ bertahap masuk ke musim kemarau. Diawali dari Jogjakarta bagian tenggara.

Disusul bagian tengah, dan terakhir Jogjakarta bagian utara. “Semua wilayah diprediksi masuk awal kemarau kisaran Mei 2019,” kata Djoko. (har/iwa/fj)