BERAWAL dari quick count yang diumumkan oleh berbagai lembaga survei. Ternyata hasil quick count mendapat tanggapan beragam dari berbagai pihak. Hitungan cepat yang lebih memfokuskan pemilihan presiden dan wakil presiden bikin heboh. Ada pro dan kontra. Ada yang mendukung keberadaan lembaga survei. Banyak juga yang mempertanyakan kredibilitas lembaga survei. Hasil hitungan cepat dari lembaga survei diragukan kebenarannya.

Di luar dari perselisihan keabsahan dari lembara survei yang meluncurkan hasil pemilihan presiden dan wakil presiden, ada hal lain yang sejatinya perlu dipikirkan secara serius. Yaitu dunia ilmu pengetahuan ilmiah telah dilibatkan dalam ranah politik praktis.

Para penggiat lembaga survei mencoba untuk meyakinkan pada publik. Hitungan cepatnya tak mungkin salah. Mereka memberikan berbagai argumentasi sebagai dasar memperkuat temuannya. Mereka menginfokan ke publik. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penghitungan cepat sudah memenuhi kaidah ilmiah. Mereka sangat yakin temuannya pasti benar.

Sementara para politisi yang diuntungkan oleh quick count menggunakan hasilnya untuk memperkuat lejitimasi yang memenangkan pertarungan pada pemilihan presiden dan wakil presiden adalah kubunya. Para politisi menjelaskan hasil quick count harus didukung oleh berbagai pihak. Karena kebenarannya sudah teruji. Hasil quick count telah diproses melalui pendekatan ilmiah. Serangkaian langkah-langkah metodologis yang didasarkan pada ilmu pengetahuan mengantarkan hasil quick count memiliki ketepatan tingkat tinggi.

Melihat realitas dinamika politik yang berkembang telah menggunakan kaidah ilmiah dalam panggung politik nasional,sesungguhnya  mengandung resiko besar. Resiko yang terjadi adalah bisa-bisa bangunan ilmu pengetahuan goyah. Kredibilitas ilmu pengetahuan yang menggunakan pendekatan ilmiah diragukan kebenarannya. Kepercayaan pada ilmu pengetahuan menjadi luntur.

Karena apapun hasilnya, hitungan quick count akan melahirkan kontroversi. Ketika hasil real count pada saatnya diumumkan sesuai dengan quick count.Tetap saja akan menimbulkan masalah. Perlawanan dari kubu lawan akan hadir.

Sebelum penyelenggara pemilu meniupkan peluit sebagai pertanda untuk mengumukan hasil pemenang pemilihan presiden dan wakil presiden sudah mendapat serangan. Hasil quick count dituduh pesanan dari kubu tertentu. Para penyelenggara survei diduga menerima amunisi dari paslon tertentu. Dukungan materi ini menjadikan hasil quick count sekedar bertujuan untuk menggiring opini kemenangan paslon sebelah. Tuduhan selanjutnya. Kemenangan hitungan cepat hanya untuk menutupi kecurangan-kecurangan dalam proses penyelenggaraan pemilu.

Entah benar. Entah salah. Hoaks atau tidak. Yang dirugikan adalah kualitas ilmu pengetahuan. Ketika kenyataannya hasil quick count sesuai dengan hasil pengumuman Komisi Pemilihan Umum, tetap saja ilmu pengetahuan memperoleh dampak negatif.

Akan hadir ketidakpuasan dari kubu lawan dengan menunjukkan bukti ketidakberesan dan kecurangan selama proses penyelenggaraan pemilu. Sehingga hasilnya pun diragukan merupakan hasil dari realitas sesungguhnya. Hasilnya diyakini berasal dari hasil manipulasi. Kondisi tersebut menjadikan  ilmu pengetahuan hanya sebagai alat pembenar dan penguat hasil. Ilmu pengetahuan diprasangkai sebagai benteng politik untuk melawan orang-orang yang meragukan hasil pemilu.

Apalagi kalau hasilnya tidak sesuai. Lebih memprihatinkan lagi dampaknya. Publik bisa abai dengan pendekatan saintifik. Mereka akan lebih menggunakan cara-cara praktis untuk menyelesaikan berbagai persoalan.

Kalau sudah seperti ini berakibat laju peradaban berjalan lambat. Peradaban yang tak cepat beranjak disebabkan faktor telah meninggalkan ilmu pengetahuan dalam menjalani kehidupan. Histori dari berbagai jaman telah membuktikannya. Peradaban bisa berkembang baik memerlukan pondasi ilmu pengetahuan yang kokoh.

Dari dinamika yang terjadi pada pemilihan presiden dan wakil presiden dapat dipetik hikmah.  Hati-hati menggunakan jargon-jargon pendekatan ilmiah dalam pertarungan politik praktis. Kenyataannya lebih banyak mudharat dibanding manfaat.