JOGJA – Masyarakat diminta bisa kembali ebrsatu pascapemilu. Seruan itu disuarakan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di DIJ dengan menggelar Deklarasi Persatuan dan Kesatuan Bangsa di Balairung, Senin (6/5).

Acara dihadiri oleh Rektor dan civitas akademika UGM, juga Wakapolda DIJ, Komandan Korem 072 Pamungkas, serta beberapa Rektor dari Perguruan Tinggi di DIJ. Acara ini sebagai seruan kepada masyarakat, untuk selalu menjaga perdamaian pasca pemilu.

“Setelah perhelatan pesta demokrasi Pemilu lalu, tidak lagi berbicara 01, tidak berbicara lagi 02. Namun, nomor 3. Ya, berbicara nomor 3 sila pada Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia,” tegas Rektor UGM Panut Mulyono.

Dalam sambutannya, Panut juga mengimbau masyarakat selalu menjaga pedamaian pascapemilu. Sinergi antar elemen di masyarakat jadi penting untuk terus bergerak maju demi bangsa Indonesia setelah perhelatan demokrasi. “Bangsa Indonesia patut bersyukur karena pemilu serentak berjalan aman, tertib, damai, dan sesuai dengan prinsip-prinsip pemilu, yaitu jujur dan adil,” katanya.

Diakuinya, dalam perkembangannya, hasil pemilu yang prosesnya berlangsung baik tersebut telah menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Mantan Dekan Fakultas Teknik UGM itu menilai pro dan kontra tersebut terjadi karena masing-masing mengklaim kemenangan. “Menuduh pihak lain berbuat curang, dan adanya upaya upaya mendelegitimasi hasil pemilu dengan mempersoalkan kredibilitas lembaga penyelenggara pemilu,” katanya.

Melihat kondisi, ituasi sosial dan politik yang berkembang pasca pemilu dikhawatirkan akan mengganggu keutuhan bangsa Indonesia. Karena itu mereka juga meminta peserta pemilu menahan diri dan tidak mengeluarkan pernyataan yang dapat memperkeruh suasana di masyarakat. “Serta menggunakan cara damai dan prosedural sebagaimana yang diatur dalam UU dalam merespon ketidakpuasan hasil pemilu,” pesannya. (cr13/pra/zl)