BANTUL – Usaha apa pun jika dikerjakan secara sungguh-sungguh dan konsisten hasilnya akan maksimal. Ari Muntoha telah membuktikannya. Usaha kacang shangri-nya laris manis, meski masih skala kecil-kecilan.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Bantul

Aktivitas Ari Muntoha setiap hari tak pernah lepas dari kacang. Diawali memilah dan memilih hasil bumi itu. Dibedakan berdasarkan kualitas dan ukurannya. Dibuat seragam. Kemudian disangrai. Kacang digoreng tanpa minyak. Itulah keseharian pria 35 tahun asal Wanujoyo, Srimartani, Piyungan, Bantul, itu menjalani rutinitasnya.

Alat sangrainya sangat sederhana. Ari membuatnya sendiri. Memanfaatkan drum bekas. Ujung kanan dan kiri dipasangi pedal sepeda onthel. Agar drum bisa digoyang-goyangkan dan diputar. Supaya kematangan kacang bisa merata saat proses sangrai. Drum itu ditaruh di atas tungku arang. “Alat sangrai ini saya desain sendiri,” ungkapnya saat berbincang dengan Radar Jogja belum lama ini.

Meski sangat sederhana, alat sangrai buatan Ari itu menjadi prototipe bagi pengusaha kacang lain. Simpel tapi justru memudahkan saat proses sangrai.

“Cukup diputar pedalnya, tak perlu keluar banyak tenaga untuk mengaduk (kacang, Red),” katanya.

Tiap hari Ari mampu memproduksi sedikitnya 100 kilogram kacang sangrai. Bahan mentahnya fresh dari petani. Biji kacang disangrai bersama kulitnya. Keluar dari alat sangrai, kacang didiamkan beberapa saat. Lalu dikemasi plastik ukuran lima kilogram. “Itu hari biasa (100 kg, Red). Menjelang Lebaran biasanya permintaan pelanggan naik,” ucap Ari.

Produk jadi ditawarkannya ke warung-warung langganan atau toko oleh-oleh. Dia juga menjajakannya kepada para tetangga. Per kemasan lima kilogram dijualnya Rp 95 ribu. Artinya, omzet harian jika kacang laku semua bisa mencapai hampir Rp 2 juta. Dia mengambil keuntungan sekitar 40 persennya. Keuntungan itu tentu saja dipotong modal usaha dan tenaga. Tapi hasilnya masih lumayan. ”Ini sudah menjadi tumpuan hidup saya. Meski hanya usaha kacang, ternyata peminatnya tinggi,” ungkapnya.

Dari usahanya itu Ari tak hanya mampu menopang perekonomian keluarga. Dia juga bisa dikatakan cukup sukses memberdayakan masyarakat setempat. Tetangga kanan kiri. Setidaknya sebagai tenaga yang membantunya. Sekaligus membantu roda kehidupan petani kacang.

Untuk bahan baku, Ari mengambilnya dari petani di wilayah Gunungkidul. Menurutnya, kacang sangrai lebih cocok menggunakan bahan baku yang berasal dari wilayah berkarakter tanah kering. ”Beda dengan kacang rebus. Yang bagus dari Karanganyar, Jawa Tengah,” ungkapnya.

Ari berharap bisa lebih mengembangkan usaha yang telah digelutinya sejak 2008. Tetap dengan bahan baku kacang. Juga dengan cara disangrai. Tapi dalam jumlah lebih banyak. Ari melihat potensi pasar kacang sangrai sangat besar. Selain kandungan protein nabati yang tinggi, kacang telah menjadi camilan favorit kebanyakan orang.

Satu prinsip yang dia tekankan, jangan menganggap remeh apa pun yang ada di sekitar kita. Asal jeli dan bisa mengolahnya pasti akan membuahkan hasil yang bagus. (yog/fj)