BANTUL – Bola liar kasus dugaan penggeseran suara di internal Partai Gerindra terus menggelinding. Setelah melapor ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Bantul, Sefti Indradewi, Selasa (7/5) melayangkan surat ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bantul. Isinya, agar KPU menunda pelantikan calon legislatif (caleg) Partai Gerindra yang terpilih di daerah pemilihan (dapil) 4 (Jetis, Bambanglipuro, Pundong, dan Kretek).

”Saya ajukan surat penundaan pelantikan Partai Gerindra dapil 4,” jelas Sefti di kantor KPU. Ditemani beberapa anggota tim suksesnya, Sefti diterima staf sekretariat KPU.

Sefti menyadari upayanya ini berujung sia-sia. Bahkan, salah alamat. Lantaran KPU Bantul tidak berwenang menetapkan atau menunda pelantikan caleg terpilih. Apalagi, proses rekapitulasi suara di tingkat kabupaten sudah selesai. Hasil rekapitulasi bahkan telah diserahkan ke KPU DIJ.

Kendati begitu, caleg nomor urut 3 ini menekankan, langkahnya itu bertujuan agar masyarakat ikut mengawasi penanganan dugaan kasus penggeseran suara.

Sebagaimana diketahui, Partai Gerindra di dapil 4 mendapatkan jatah dua kursi. Kursi pertama diperoleh Saryanto. Dia memperoleh 6.500 suara lebih. Sefti mengklaim perolehan suaranya berada di urutan kedua. Di angka 5.000 suara lebih. Itu berasal dari penghitungan suara manual di empat kecamatan.

Namun, perolehan suaranya saat proses rekapitulasi di tingkat kecamatan turun. Hasil penghitungan di Kecamatan Bambanglipuro berbeda dengan data manual. Berkurang sekitar 500-an suara. Anehnya, perolehan suara caleg Partai Gerindra yang lain di dapil 4 justru naik.

”Sehingga, perolehan suara saya (di Partai Gerindra) berada di urutan ketiga,” ucap Sefti Sabtu (4/5).

Terpisah, Ketua KPU Bantul Didik Joko Nugroho menegaskan, proses rekapitulasi suara tetap akan berjalan. Jika toh ada dugaan pelanggaran, Didik menyarankan agar melapor ke Bawaslu.

”Yang terpenting lapor ke Bawaslu. Biar ada penanganan,” katanya. (cr6/zam/zl)