JOGJA – Dalam Surat Edaran Wali Kota Jogja, yang mengatur jam operasional usaha jasa makanan dan minuman selama Ramadan, masih memperbolehkan membuka usaha dengan ditutup tirai. Tapi pedagang kaki lima (PKL) di Malioboro, yang berjualan kuliner memilih libur.

Pada awal bulan Ramadan ini,di kawasan semi pedestrian Malioboro terlihat begitu hening dan lenggang di pagi hari hingga sore hari. Deretan warung PKL di trotoar sisi timur trotoar, hanya beberapa saja yang masih beroperasi. Kebiasaan yang sudah berlangsung lama ini demi menghormati datangnya Ramadan.

Kepala unit pelaksana teknis (UPT) Malioboro Ekwanto mengatakan sejak dulu para PKL kuliner akan memilih libur berjualan di siang hari. “Mereka libur itu menjadi tradisi awal-awal puasa sekitar satu minggu hingga dua minggu libur,” katanya Selasa (7/5).

Menurut dia, libur berjualan itu merupakan inisiatif dari paguyuban PKL itu sendiri. “Sebenarnya mereka libur bukan kami yang menyuruh tapi inisiatif dari mereka sendiri. Selain itu mereka libur mungkin karena pengunjungnya juga berkurang,” tambahnya.

Saat para PKL kuliner di sisi timur libur, justru disambut baik pengunjung. Itu karena mereka bisa lebih leluasa berjalan-jalan di kawasan semi pedestrian Malioboro. Salah satu pengunjung Malioboro, Ayunda Widyastuti mengaku lebih suka saat Malioboro seperti saat ini. Lebih lenggang dan tidak terlalu rame. “Lebih seneng kalau Malioboro seperti ini karena bisa leluasa bergerak dan bisa lebih menikmati suasana di Malioboro dengan tenang,” ujar.

Ekwanto pun mengakui hal yang sama. Mantan Lurah Prawirodirjan itu menyebut salah satu keuntungan saat PKL kuliner libur adalah volume sampah yang berkurang. Kondisi lalu lintas pun tidak seramai biasanya.

Ekwanto juga berpesan kepada PKL yang tetap berjualan agar jangan terlalu menonjol saat menjajakan makanan dan minuman di siang hari. Selain itu harganya juga diminta tidak dinaikkan. “Yang libur ya dinikmati liburnya. Mending setahun sekali bisa berlibur seperti ini,” tuturnya. (cr8/pra/rg)