JOGJA – Bulan Suci Ramadan menjadi hikmah tersendiri bagi penghuni Rumah Tahanan Kelas IIA Jogjakarta. Selama Ramadan ini, mereka tidak hanya sekadar menjalankan ibadah wajib namun juga menjadi sebuah pembelajaran. Ramadan menjadi momentum refleksi atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat.

Ya, Kepala Rutan Wirogunan Agustiyar Ekantoro memberlakukan kewajiban puasa bagi semua warga binaan muslim. Setidaknya dari total 161 warga binaan, 145 di antaranya menjalani puasa Ramadan. Mereka juga mengikuti beragam kegiatan selama Ramadan ini.”Kecuali dalam kondisi sakit atau sudah usia sepuh, kami tidak mewajibkan,” jelasnya, Selasa (7/5).

Agus menuturkan program ini telah menjadi kegiatan rutin di Rutan Wirogunan. Seluruh kegiatan dalam rutan layaknya pesantren kilat selama 30 hari penuh. Kegiatan diawali dari saur bersama hingga tadarus usai Salat Tarawih.

Agus juga menargetkan warga binaannya khatam Alquran usai menjalani hukuman. Menurutnya pendampingan ini sangatlah penting bagi seluruh penghuni. Terutama sebagai benteng iman dalam menghadapi putusan maupun menjalani hukuman.”Jadi bekal mereka, tidak hanya selama menjalani hukuman tapi juga amalan seusai bebas,” harapnya.

Kesedihan terpancar dari sosok Sabari, 29. Penghuni rutan Wirogunan ini terhitung masih warga baru. Saat ini dia tengah menunggu putusan atas kasus yang menjeratnya. Berupa penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian.

Meski statusnya masih tahanan titipan, dia bersedih karena tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Terlebih pada Ramadan ini, tidak bisa beribadah bersama istri dan kedua anaknya. Bahkan selama dua hari ibadah Ramadan, dia sudah merindukan suasana rumah.“Sedih tidak kumpul dengan keluarga. Tapi bagaimana lagi, sudah konsekuensinya,” katanya.

Di satu sisi momentum ini menjadi refleksi luar biasa. Aksi kriminalitas menggiringnya ke jeruji dingin tahanan. Untuk mengisi penyesalan, Sabari mengisi keseharian dengan mengikuti pesantren kilat rutan Wirogunan.

Dia berjanji usai menjalani hukuman akan berubah. Janji ini tidak hanya untuk dirinya tapi juga orang-orang di sekelilingnya. Itulah mengapa dia menyambut positif kegiatan selama Ramadan. Tentunya sebagai refleksi dan penguatan rohani. “Dikasih ujian tapi tetap ingin memperbaiki jangan terulang lagi. Saya ingin minta maaf karena Ramadan ini tidak bisa kumpul dengan keluarga,” sesalnya. (dwi/din/by)