JOGJA – Mengklaim sebagai satu-satunya daerah, yang menggelar ujian nasional berbasis komputer (UNBK) tingkat SMA/SMK tanpa pengawas, Disdikpora DIJ pede hasilnya memuaskan. Menargetkan masuk lima besar peraih nilai UNBK SMA/SMK.

Ketua Panitia UNBK SMA/SMK 2019 Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ Didik Wardaya menyebut DIJ merupakan satu-satunya yang melaksanakan UNBK tanpa pengawas.

Ketiadaan pengawas ini bertujuan membangun persepsi positif. Terutama bagi peserta ujian di seluruh tingkatan. Alasannya penggunaan pengawas terkesan adanya ketidakpercayaan. “Jadi konsepnya fasilitator dan satu-satunya di Indonesia. Dari evaluasi sementara tanpa nilai, sudah sangat berjalan dengan baik,” katanya, Selasa (7/5).

Didik turut mengevaluasi tingkat kesulitasn UNBK 2019. Hasil kajian menunjukan tingkat kerumitan menurun. Selain itu persiapan di tingkat pusat juga mengalami peningkatan. Terbukti dengan adanya mitigasi permasalahan selama ujian berlangsung.

Disatu sisi jumlah peserta UNBK terus meningkat setiap tahunnya. Tidak hanya menumpang, namun menyelenggarakn UNBK secara mandiri. Untuk jenjang SMA tersisa 20 sekolah menumpang. Sementara untuk SMK hanya sembilan sekolah menumpang.“Perbaikan fasilitas terus dilakukan, terutama untuk kebutuhan komputernya. Kami terus berkoordinasi baik dengan sekolah maupun pemerintah pusat terkait itu,” ujar Kabid Perencanaan dan Pengembangan Mutu Disdikpora DIJ itu.

Sementara itu Kepala Disdikpora DIJ Kadarmanata Baskara Aji menargetkan Jogjakarta masuk lima besar hasil Ujian Nasional SMA/SMK. Target ini dicanangkan berdasarkan prediksi hasil UN tahun ini.

Nilai UNBK sendiri telah diterima Jumat lalu (3/5). Hanya saja jajarannya belum bisa memastikan nilai setiap sekolah. Karena proses akan dicetak dalam Daftar Kolektif Hasil Ujian Nasional (DKHUN). “Rencana dibagikan ke sekolah besok (hari ini). Nah pada tahapan ini masih akan diolah bersama dengan nilai sekolah baru diumumkan setelahnya,” jelasnya.

Pengumuman hasil UN dilakukan oleh pemerintah pusat. Sementara untuk jajarannya baru direncanakan 10 Mei. Disinggung mengenai nilai rata-rata, Aji belum berani berbicara. Ini karena proses pengolahan belum rampung sepenuhnya.

“Besok saja ya, tetap nunggu dari Pak Menteri dulu. Nanti akan ada nama siswa yang memperoleh nilai tertinggi juga. Tapi kalau target lima besar tetap optimis,” janjinya. (dwi/pra/zl)