SLEMAN – Komunitas Natrix Reptile punya mimpi besar. Komunitas pecinta ular ini ingin populasi hewan melata tersebut kembali seimbang. Ketua Komunitas Natrix DIJ Pideksa Bisma Bramara Wilasita mengungkapkan, turunnya populasi ular itu terlihat dengan meningkatnya tikus di area persawahan.

”Di Seyegan, contohnya,” jelas Bisma saat ditemui di Moyudan, Selasa (7/5).

Turunnya populasi ular, kata Bisma, di antaranya akibat perburuan liar. Masyarakat berburu ular lantaran tidak sedikit warga yang tergigit. Masyarakat juga tak segan membunuh ular ketika masuk ke permukiman.

Menurutnya, kondisi itu disebabkan minimnya pemahaman masyarakat terhadap ular. Berikut penanganannya ketika tergigit. Dari itu, Komunitas Natrix Reptile gencar memberikan edukasi. Yang menarik, komunitas ini selalu memanfaatkan media atraksi sebelum menyampaikan materi edukasi.

”Kami berikan pemahaman akan bahaya ular dan penanganannya. Kami juga mengenalkan berbagai jenis ular dan karakternya,” ungkapnya.

Kendati begitu, komunitas ini tak sembarangan ketika beratraksi. Penonton atraksi minimal berusia 14 tahun.”Kalau usianya di bawah itu, ya, ularnya biasa,” lanjutnya.

Selain masyarakat, Komunitas Natrix Reptile juga tak jarang diundang sekolah dasar (SD). Untuk memberikan edukasi kepada siswa-siswa SD. Praktiknya, siswa, antara lain, diajarkan cara memegang ular.

”Tetap kami tanamkan bahwa ular tetap bahaya. Tapi, tidak kami takuti,” ucapnya.

Guna meningkatkan kembali populasi, Bisma mengungkapkan, komunitasnya tak jarang membeli ular di pengepul. Lalu, dilepasliarkan kembali.

”Biayanya cukup murah,” katanya.

Melalui sosilaisasi, Bisma berharap tiap daerah di DIJ memiliki masyarakat yang peduli dan mengetahui akan ular. Agar mereka bisa memberikan edukasi kepada masyarakat. Juga dapat memberikan pertolongan pertama saat terjadi gigitan ular.

”Kami masih berupaya agar bisa masuk pemerintahan. Agar dapat bersama-sama memberikan edukasi kepada masyarakat,” tambahnya. (cr7/zam/er)