SLEMAN – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) untuk 2019 di Sleman bakal berbasis elektronik atau e-voting. Sebelumnya, di beberapa daerah juga telah menerapkan Pilkades e-voting. Diharapkan pelaksanaan Pilkades lebih kredibel dan terjamin kerahasiannya.

Bupati Sleman, Sri Purnomo (SP) mengatakan e-voting merupakan cara menghemat anggaran. Sebab, pelaksanaan Pilkada berbasis surat suara membutuhkan biaya tidak sedikit.

E-voting ini kan mahalnya di depan. Atau saat membeli. Tapi bisa digunakan berkali-kali. Jadi menghemat anggaran,” kata SP, Rabu (8/5).

Dikatakan, untuk Pilkades 2019 akan dilaksanakan pada November 2019. Mulai sekarang, pihaknya terus melakukan persiapan.

“Kami ada bimbingan teknis (bimtek) untuk petugas. Nantinya kami lakukan simulasi untuk para pemilih juga,” kata SP.

Mekanisme pemilihan dengan e-voting jauh lebih mudah dan simpel. Sehingga jika penerapan e-voting dalam Pilkades berhasil, bisa dimungkinkan dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 juga menggunakan e-voting.

“Kalau ini berhasil, kan masih ada waktu satu tahun. Jadi kemungkinan, kalau berhasil, bisa diterapkan untuk Pilkada,” harap SP.

Untuk penggunaan e-voting, juga membuat kerja panitia lebih mudah. Hasil pemungutan suara bisa diketahui saat itu juga.

“Jadi setelah selesai Pilkades, hasilnya bisa langsung di-print. Jadi, e-voting ini untuk menghindari kerumitan tinggi seperti Pemilu 2019,” kata SP.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sleman, Eka Suryo Prihantoro menjelaskan, nantinya setiap TPS dilengkapi satu komputer layar sentuh untuk memilih calon kepala desa. Disediakan dua laptop untuk mendata daftar pemilih dan untuk mengaktifkan smart card.

“Mekanisme Pilkades melalui e-voting dilakukan dengan menggunakan komputer layar sentuh. Yang berisi kandidat kepala desa,” kata Eka.

Mekanismenya, kata Eka, pemilih tinggal mendaftar. Panitia melakukan verifikasi dan mendapatkan smart card. Smart card itu dapat diperoleh dengan menunjukkan KTP elektronik dan melakukan pemindaian sidik jari saat e-voting dan hanya dapat digunakan untuk sekali pemungutan suara.

Selanjutnya, tinggal memasukkan smart card pada perangkat. Kemudian akan muncul pilihan kandidat di layar monitor.

Pemilih tinggal menyentuh layar komputer sesuai pilihan dan kemudian muncul notifikasi validitas. “Notifikasi ini berisi pernyataan bahwa pilihan sudah benar atau belum. Jika sudah benar tinggal diklik dan hasil pilihan akan langsung ter-print,” ujar Eka.

Dia memastikan keamanan pada jaringan yang digunakan. Sehingga tidak ada hacker yang bisa meretas. “Karena ini sistemnya offline, kami pastikan semua aman,” kata Eka.

Termasuk, jika listrik mati. ‘’Ketika sudah nyala lagi, sistemnya tidak akan terpengaruh. Karena otomatis tersimpan,” kata Eka.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Sleman, Priyo Handoyo mengatakan, pada 2018 dan 2019, ada 35 kepala desa di Sleman yang habis masa jabatannya. Untuk TPS, disesuaikan dengan TPS saat Pilkada. “Untuk 35 desa ada 875 TPS,” ujar Priyo. (har/iwa/by)