SLEMAN – Universitas Gadjah Mada (UGM) akan lakukan penelitian terkait meninggalnya 440 orang petugas pemilihan umum (Pemilu) 2019. Hal ini dilakukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya di balik meninggalnya petugas Pemilu dan mencegah hal serupa terjadi lagi.

Penelitan akan dilakukan lintas fakultas. Terdiri dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK), serta Fakultas Psikologi UGM.

Dosen Fisipol UGM, Abdul Gaffar Karim yang tergabung dalam tim riset menuturkan, persoalan sakit dan meninggalnya petugas harus dilihat dari berbagai disiplin ilmu. Tidak hanya dilihat dari sudut pandang politik.

“Jika dihitung secara statistik, angka enam juta petugas dan diterapkan mortality rate pada mereka, 400 petugas yang meninggal tidak terlalu ajaib,” kata Gaffar di UGM, Kamis (9/5).

Akan tetapi, mengingat hal ini terkait dengan peristiwa politik, penelitian ini bertujuan untuk memastikan kejadian meninggalnya petugas Pemilu bersih dari spekulasi politik. Kejadian ini, kata Gaffar, bukanlah suatu hal yang terencana, masif, dan terstruktur untuk mendelegitimasi hasil Pemilu.

Dekan Fisipol UGM, Erwan Agus Purwanto menjelaskan, meninggalnya petugas Pemilu tidak bisa digunakan untuk mendelegitimasi hasil Pemilu 2019. Seperti yang disuarakan oleh beberapa pihak. Dari total jumlah petugas sebanyak enam juta, proses menyelesaikan tugas Pemilu akan dikerjakan oleh petugas yang tidak meninggal dunia.

“Meninggalnya petugas Pemilu jangan sampai digoreng oleh pihak tertentu. Untuk menjadi alasan mendelegitimasi hasil Pemilu,” kata Erwan.

Menurut Erwan, penghitungan suara yang memakan waktu lama dan peraturan untuk menyelesaikan tugas saat Pemilu, membuat petugas tidak memliki waktu jeda untuk beristirahat. Selain itu, petugas tidak dilatih bekerja dalam team work maupun shift. Serta pemilihan petugas maupun ketua panitia berdasarkan senioritas dan lanjut usia.

“Rasa tanggung jawab yang tinggi dan adanya lembur tanpa adanya kerja shift diduga menjadi penyebab kematian,” tambah Erwan.

Dekan Fakultas Psikologi Faturochman menduga, adanya tekanan dan beban kerja dari tenaga yang tersedia menjadi pemicu kematian. Kerja temporary dengan mementingkan terselenggara tanpa adanya kesejahteraan kerja harus segera dibenahi.

“Mungkin harus ada asuransi atau dukungan bebas dari tekanan akan dicurigai melakukan kecurangan, serta harus ada SOP yang jelas,” ujar Faturochman.

Dekan FKKMK UGM, Ova Emilia mengatakan, faktor kelelahan bisa memicu penyakit. Dan bisa menyebabkan kematian.

Penelitian lintas disiplin ilmu tersebut akan dimulai dalam beberapa hari ke depan. Nanti, hasilnya akan diimplementasikan di Pilkada 2020 DIJ. (cr7/iwa/zl)