SLEMAN – Tanggal 10 Mei diperingati sebagai Hari Lupus Sedunia. Lupus disebut penyakit seribu wajah. Bisa mengakibatkan gangguan organ. Seperti mulut, kulit, jantung, perut, ginjal, bahkan mata.

Pakar Kornea dan Infeksi mata Luar, RSUP Dr Sardjito Jogja, Suhardjo mengatakan, gejala lupus bervariasi. Mulai ringan hingga berat. Tidak memiliki gejala khas. Penyakit lupus sulit didiagnosis.

“Biasanya demam, nyeri, pembengkakan sendi, gangguan pernafasan, mata, ginjal, dan kemerahan pada kulit. Saat terpapar sinar matahari,” kata Suhardjo di RSUP Dr Sardjito Jogja, Kamis (9/5).

Saat ini, ada sekitar lima juta orang di dunia berjuang melawan lupus. Sedikitnya 16.000 orang terdiagnosis lupus setiap hari. Penyakit lupus, 11 kali lebih banyak menyerang perempuan dibandingkan laki-laki pada usia produktif.

Suhardjo menuturkan, sekitar 50 persen penderita lupus mengalami gangguan pada mata. Dengan gejala yang ditimbulkan seperti mata kering, luka pada kelopak mata, gangguan saraf, mata merah, dan gangguan gerak bola mata.

Jika tidak segera ditangani, lupus menyebabkan peradangan pada mata. Menyebabkan penyumbatan pembuluh darah ke saraf mata.

“Pendarahan di dalam bola mata akan terjadi. Dan menyebabkan penurunan penglihatan hingga kebutaan,” kata Suhardjo.

Penyebab lupus belum diketahui secara pasti. Namun, terjadinya lupus disebabkan faktor lingkungan, genetic, dan hormon. Lupus yang tidak bisa disembuhkan, bisa ditekan gejalanya dengan konsumsi obat dalam jangka panjang.

Yakni dengan obat antiperadangan nonsteroid, kortikosteroid, hidroksiklorukuin, imunosupresan, obat pengencer darah, obat darah tinggi, dan plasmapheresis.

Suhardjo mengimbau masyarakat memeriksakan kesehatan mata bagi penderita lupus. Untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Keterlambatan diagnosis dan ketidaktaatan penderita lupus pada pengobatan meningkatkan risiko terjadinya komplikasi dan kematian. (cr7/iwa/zl)