SLEMAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mencatat, hingga akhir April 2019 terdapat 12 kasus leptospirosis di Sleman. Satu dari 12 kasus tersebut, penderitanya meninggal dunia.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Dinkes Sleman, Dulzaini mengatakan pada musim pancaroba, leptospirosis harus diwaspadai.

“Untuk kasus yang meninggal, karena terlambat penanganannya. Penderita sudah kena liptospirosis, namun tidak segera periksa. Saat diperiksa, kondisinya sudah menurun,” kata Dulzaini, Minggu (12/5).

Masyarakat dia minta menerapkan perilaku hidup sehat. Sebab bakteri leptospira interrogans yang menyebabkan leptospirosis ada di persawahan maupun di lingkungan rumah.

“Kalau ke sawah usahakan saat sinar matahari terik. Pakai sepatu bot. Cuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas. Untuk di rumah, kalau banyak tikus, bisa dibersihkan dengan disiram lisol ke titik yang sering dilewati tikus. Bakterinya bisa mati,” jelas Dulzaini.

Dia mengimbau, jika mengalami gejala demam, pusing, mual, nyeri otot terutama di daerah kaki, agar segera periksa. “Karena bisa langsung dilakukan tes cepat leptospirosis,’’ kata Dulzaini.

Setiap Puskesmas di Sleman sudah bisa melakukan tes itu. Kalau sudah diketahui Lepto, bisa diobati. ‘’Kalau sudah terlambat, sulit teratasi. Karena terjadi kegagalan organ,” jelas Dulzaini.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, Heru Saptono mengatakan, jajarannya bersama Dinkes Sleman memberikan pemahamanan kepada petani. Agar menjaga kebersihan agar terhindar dari bakteri dari kencing tikus.

“Kami mengimbau petani menjaga kebersihan agar terhindar dari virus. Umumnya berasal dari kencing tikus. Biasanya petani menumpuk jerami di pematang. Itulah yang menjadi tempat kencing tikus,” ingat Heru. (har/iwa/by)