GUNUNGKIDUL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mengagendakan rapat koordinasi dengan kecamatan. Materi pembahasan seputar pemenuhan kebutuhan air bersih selama Ramadan dan lebaran. Lantaran beberapa kecamatan di Gunungkidul telah mengalami krisis air.

”Rapat koordinasi untuk memetakan kebutuhan air bersih,” kata Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki saat dihubungi Minggu (12/5).

Berdasar data BPBD, ada beberapa kecamatan yang kerap menjadi langganan krisis air bersih saat musim kemarau. Di antaranya, Kecamatan Tepus, Rongkop, Girisubo, dan Semin. Sebagai solusinya, BPBD rutin menyalurkan droping air.

Menurut Edy, rapat koordinasi dengan pemerintah tingkat kecamatan diperlukan untuk mengetahui kondisi terkini kebutuhan air di tingkat masyarakat. Sebab, prosedur pengajuan droping air melalui kecamatan.

”Sampai dengan hari ini (kemarin, Red), belum ada permintaan droping air dari kecamatan,” ungkapnya.

Kendati begitu, Edy memperkirakan kebutuhan air selama Ramadan meningkat. Jadi, koodinasi dengan kecamatan menjadi langkah bersama untuk memberikan kenyamanan kepada umat muslim di bulan Ramadan. Meski, Edy meyakini warga yang tinggal di wilayah zona merah masih memiliki cadangan air.

”Kan warga mempunyai bak penampungan juga,” ujarnya.

Camat Saptosari Rachmadian menyebutkan, ada lima desa di wilayahnya yang mulai merasakan dampak musim kemarau. Yakni, Desa Ngestirejo, Kemadang, Banjarejo, Hargosari, dan Kemiri. Bahkan, Desa Ngestiharjo sejak sepekan terakhir telah menerima bantuan droping air.

”Untuk droping air di Desa Ngestirejo ditangani kecamatan. Empat desa lainnya diampu BPBD,” katanya. (gun/zam/zl)