MAGELANG – Sanni Prasetiawan, 23, tak menyangka jika akhirnya ia justru ditangkap polisi usai mengikuti penataran perkawinan di KUA Magelang Tengah, Kota Magelang, akhir pekan lalu. Ia pun dilakukan penahanan, karena diduga telah melakukan  persetubuhan dengan anak di bawah umur.

Sanni diancam dengan UU Nomor  35 Tahun 2014 Pasal 76 D tentang Perlindungan Anak. Korban pencabulan yakni WE, 17, warga Candimulyo, Kabupaten Magelang. Karena perkawinannya sudah direncanakan lama, ijab kabul pun dilakukan di ruang Satreskrim Polres Magelang Kota.

“Tersangka sudah mendaftarkan pernikahan di KUA, sedangkan yang bersangkutan menjalani penahanan, maka akad nikah kami fasilitasi di ruang Satreskrim. Di hadapan penghulu, keluarga, dan polisi, pasangan ini pun menikah,”  ujar Kapolres Magelang Kota AKBP Idham Mahdi.

warga asal Kampung Wates Prontaan, Kelurahan Wates, Magelang Utara, ini pun rela ijab kabul dilakukan di ruang Satreskrim Polres Magelang Kota.

Didampingi Kasubag Humas AKP Nur Sajaah, Kapolres membeberkan kronologis peristiwa yang menjerat warga Kampung Wates Prontaan, Kelurahan Wates, Magelang Utara, ini. Bermula dari  Wahyu Sasongko, ayah korban, membuka ponsel anaknya dan melihat ada foto akrab dengan tersangka.

Beberapa hari kemudian, pelaku mendatangi rumah korban dan mengajak pergi mencari pekerjaan. Setelah beberapa hari, tepatnya 31 Januari 2019, tersangka bersama kedua orang tuanya datang ke rumah korban. “Selain mengantar korban yang sudah menginap di rumah pelaku selama beberapa hari, tersangka dan kedua orang tuanya juga ingin bersilaturahmi sekaligus melamar,” tuturnya.

Selang satu bulan setelah kejadian itu, ternyata korban diketahui hamil. Wahyu berusaha menghubungi pelaku untuk bertanggung jawab, tetapi tidak ada respons. Bahkan mendapat informasi, pelaku akan menikah dengan orang lain. Atas kejadian ini, korban melaporkan kejadian itu ke Polres Magelang Kota.

“Atas dasar laporan itu, kami melakukan penyelidikan melalui Unit Pelayanan Perempuan dan Anak. Kami mendapat informasi kalau tersangka SP akan menikah. Segera dilakukan koordinasi dengan KUA Kecamatan Magelang Tengah,” ujarnya.

Untuk proses hukum, lanjut Idham, akan terus berlanjut. Apalagi, pihaknya sudah mengamankan barang bukti seperti pakaian korban dan tersangka. Juga bukti berupa visum korban.

“Dari kasus ini kami mengimbau masyarakat, khususnya orang tua yang memiliki anak perempuan untuk berhati-hati. Bagi perempuan pun berhati-hati, jangan mudah tergoda untuk berhubungan laiknya suami-istri kalau belum resmi menikah,” tandas perwira menengah ini.  (dem/laz/er)