LIHATLAH cara Kanada memperoleh hakim terpercaya. Misalnya yang ikut mengadili dokter ahli saraf dari Singapura itu: DR Dr Gobinathan Devathasan. Yang menjatuhkan hukuman yang menghebohkan itu. (baca DI’s Way: Dokter Cerai, Radar Jogja, Rabu, 10/5).

Nama hakimnya: Geoffrey B. Gomery.

Untuk jadi hakim di Pengadilan Vancouver itu Gomery harus melamar. Tidak ada hakim karir di sana. Lowongan itu dibuka ketika ada hakim yang pensiun.

Siapa saja boleh melamar: hakim, pengacara, jaksa, dosen, atau siapa pun. Lamaran ditujukan ke Kementerian Kehakiman. Akan disaring oleh tim penilai. Ahli dan independen.

Tesnya sederhana. Bisa mengisi jawaban secara online. Atas pertanyaan tim. Yang pertanyaan itu diketahui oleh publik.

Pertanyaan itu menyangkut dua kelompok: kemampuan bahasa dan kapasitas/integritas.

Publik bisa tahu kapasitas setiap pelamar. Termasuk kapasitas Gomery.

Misalnya dia menjawab ‘yes’ untuk dua pertanyaan dan ‘no’ untuk dua pertanyaan lain. Semua di bidang bahasa.

Yang dia jawab ‘yes’ adalah: tanpa latihan lagi apakah Anda mengerti kalau membaca bahan-bahan peradilan dalam bahasa Inggris (‘yes’) dan Prancis (‘yes’).

Tanpa latihan lagi apakah Anda mengerti bila diskusi hukum dengan kolega Anda dalam bahasa Inggris (‘yes’) dan Prancis (‘yes’).

Tapi untuk dua pertanyaan berikut Gomery menjawab ‘yes’ dan ‘no’.

Tanpa latihan lagi apakah Anda mengerti kalau diajak bicara hukum dengan counsel di pengadilan dalam bahasa Inggris (‘yes’) dan Prancis (‘no’).

Tanpa latihan lagi apakah Anda bisa mengajukan pembelaan hukum secara lisan dalam bahasa Inggris (‘yes’) dan Prancis (‘no’).

Tentu Gomery sebenarnya bisa menjawab ‘yes’ dan ‘yes’. Tapi dia bisa terjebak dalam kejujuran intelektual kalau dia menjawab ‘yes’ semua.

Pertanyaan berikutnya adalah latar belakang pendidikan dan kelanjutan pendidikan. ‘Kelanjutan pendidikan’ itu perlu ditanyakan karena hakim adalah sebuah profesi. Keberlanjutan pendidikan sangat penting bagi pengemban profesi. Agar keilmuannya terus meningkat sesuai dengan perkembangan masyarakat.

Gomery menyebutkan bahwa dia lulusan Queen University. Itu umum. Yang tidak umum adalah: bidang studinya matematika dan politik.

Lantas mengambil bidang hukum untuk magisternya. Di University of Toronto.

Dari situ Gomery pergi ke Inggris. Masuk perguruan tinggi kelas satu: University of Oxford. Meraih gelar hukum dengan pujian.

Setelah itu pun masih banyak kursus dan seminar hukum yang dia ikuti.

Pertanyaan lain: penghargaan apa saja yang pernah diterima dalam karirnya sebagai orang hukum. Sederet award dia tuliskan.

Yang agak ‘dalam’ adalah pertanyaan tentang pengalaman hidupnya. Khususnya yang terkait dengan keanekaragaman masyarakat Kanada. Dan keunikan mereka.

Anda sudah tahu: separo rakyat Kanada bicara dalam bahasa Inggris. Separo lagi berbahasa Prancis. Separonya lagi berbahasa Kanton. Terutama separo yang di Vancouver. Begitu banyak orang Hongkong di Vancouver. Sampai kota itu belakangan disebut juga Hongcouver.

Gomery menulis pengalaman pribadinya: lahir dan besar di Montreal. Dari bapak ibu Anglophone dan Protestan. Anglophone adalah keturunan Inggris dan tetap berbahasa Inggris di lingkungan berbahasa Inggris di luar Inggris.

Tapi dia kuliah di Toronto. Dan ketika orang tuanya cerai Gomery punya ibu tiri, Francophone: keturunan Prancis dan berbahasa Prancis di lingkungan berbahasa Prancis di Kanada. Dari sini Gomery sangat paham budaya Francophone. Karena dia tinggal bersama ibu tirinya itu.

Tapi Gomery juga sering mengunjungi ibunya yang kawin lagi dan tinggal di Halifax. Itu membuat Gomery paham keanekaragaman Kanada.

Pertanyaan lain adalah tentang litigasi. Gomery menjawab: sangat mutlak seorang hakim harus ahli dalam litigasi. Dan memang Gomery punya track record di bidang litigasi.

Gomery mengakui bahwa dia tidak punya pengalaman langsung di bidang hukum keluarga. “Tapi ayah saya adalah ahli hukum bidang keluarga,” katanya.

Sering kali, tulisnya, saat makan malam pun ayah mendapat telepon. Dari klien. Yang minta konsultasi bidang hukum keluarga. Ayahnya lantas memberi kuliah ‘hukum keluarga’ sambil makan.

Gomery juga merasa beruntung pernah tinggal di Inggris. Dua anaknya lahir di London. Dengan demikian, tulisnya, saya pernah melihat Kanada dari perspektif luar Kanada.

Itu juga membuat pemahamannya tentang demokrasi dan hukum lebih baik. Inggris adalah negara dengan demokrasi tertua di dunia.

Yang pemilunya ‘hari ini’ perdana menteri barunya sudah dilantik ‘besok jam 9 pagi’. Karena pemilunya begitu jujurnya.

Meski dari keluarga mampu Gomery pernah bekerja di pabrik dengan upah UMP. Yakni saat dia menjadi mahasiswa. Dia bisa tahu budaya masyarakat dengan pendapatan terendah. Lalu dia pindah gereja ke Unitarian. Pemahamannya tentang agama lebih luas lagi.

Waktu pindah ke Vancouver, Gomery lebih paham soal lesbian dan gay. Yang menjadi kenyataan sehari-hari. Tentu dia juga menjadi lebih sering makan di Chinese food restaurant.

Sebenarnya sangat menarik pandangannya tentang hakim, demokrasi, dan konstitusi. Tapi tulisan ini akan menjadi sangat berat kalau membahas itu.

Intinya masih banyak yang harus kita perbuat. Untuk bisa menjadi negara demokrasi dengan hukum yang tegak.

Ada negara demokrasi yang kurang transparan. Ada negara tidak demokratis tapi lebih transparan. Tentu ada negara demokratis dan sangat transparan.

Yang terakhir itu Kanada, salah satunya.

Demokrasinya begitu dewasa. Pemilunya begitu jujur.

Hukumnya begitu tegak. Pengadilannya begitu terpercaya. (yog/rg)