KULONPROGO – Ada Desa Glagah, Palihan, Sindutan, Kebonrejo, dan Jangkaran. Itulah lima desa di Kecamatan Temon yang akan menghiasi gate Yogyakarta International Airport (YIA). Ya, identitas lima desa terdampak pembangunan bandara ini akan dimunculkan dalam panel ornamen penghias gate. Panel relief berupa diorama itu menggambarkan ciri khas lima desa plus dinamika masyarakatnya.

”Aktivitas kehidupan keseharian masyarakat dari lima desa terdampak itu akan ditampilkan pada lima gate yang ada di YIA,” jelas Project Manager Pembangunan YIA PT Angkasa Pura (AP) I Taochid Purnama Hadi, Minggu (12/5).

YIA dibangun di atas lahan seluas 587 hektare. Desa Glagah, Palihan, Sindutan, Kebonrejo, dan Jangkaran paling terdampak dengan pembangunan proyek pemerintah pusat ini. Ada ribuan warga dari lima desa itu yang harus direlokasi.

Menurut Taochid, diorama dibuat berbeda. Disesuaikan dengan ciri khas masing-masing desa. Dengan begitu, ciri khas lima desa itu bakal tampak jelas dalam panel gate. Kendati begitu, penamaan gate dalam minimum operation masih menggunakan angka. Meski, tiap gate telah memuat konten dari desa-desa terdampak.

”Jadi, gate nanti menggunakan nama desa. Tapi, saat memanggil penumpang tetap dengan sebutan gate 1, gate 2, gate 3, seterusnya. Agar penumpang tidak bingung,” ujarnya.

Ditambahkan, beberapa bangunan YIA akan memunculkan ciri khas DIJ. AP I berkolaborasi dengan sejumlah seniman Jogja yang ditunjuk sebagai kurator aspek seni pada desain bandara YIA.

”YIA akan memiliki satu garis desain yang diterapkan sebagai artwork (karya seni),” katanya.

Hingga sekarang, ciri khas Jogja yang sudah ditampilkan adalah motif batik kawung. Itu terlihat di gapura depan, lantai, dan skylight gedung terminal.

Istana air Tamansari akan muncul pada lantai dasar terminal kedatangan. Begitu pula dengan model lawang papat yang menjadi gerbang penyambut penumpang. Malioboro juga akan dihadirkan pada koridor penghubung gedung parkir dengan bangunan terminal.

”Semua ciri-ciri khas Jogja akan kami munculkan semua,” katanya.

Disinggung progres full operation, Taochid menyebutkan baru mencapai 50 persen. PT AP I saat ini fokus di terminal, gedung penunjang, dan aksesibilitas lainnya. Agar YIA bisa beroperasi full operation akhir tahun.

Pelaksana Tugas Sementara (PTS) General Manager YIA Agus Pandu Purnama menambahkan, beberapa sarana dan prasarana YIA merupakan produk dalam negeri. Garbarata, misalnya, merupakan produksi Cileungsi. Namun, garbarata sepanjang 45 meter itu tak kalah bagus dan modern.

”Sirkulasi pendingin udara (di dalam garbarata) merata dari ujung ke ujung. Kacanya juga memantulkan panas, sehingga penumpang nyaman berada di lorong garbarata,” tambahnya. (tom/zam/zl)