”BETAPA Banyak Orang yang Berpuasa Namun Dia Tidak Mendapatkan dari Puasanya Tersebut Kecuali Rasa Lapar dan Dahaga.” (HR. Ath Thobroni).

Hadist di atas merupakan hadist yang menunjukkan bahwa puasa yang dilakukan oleh kebanyakan manusia hanya menahan lapar dan haus saja. Padahal sebenarnya hakikat berpuasa yang baik ialah menahan hawa nafsu, agar terhindar dari hal-hal yang negatif.

Meskipun begitu, pada kenyataannya kita tidak bisa melihat sesuatu yang negatif tersebut dengan mata telanjang, karena yang terjadi saat ini ialah sangat sulit untuk menemukan sesuatu yang benar.

Misalnya saja mengenai berita hoaks yang sering kali beredar di media sosial. Sampai saat ini masyarakat masih sulit untuk membedakan berita seperti apa yang dapat dikatakan benar, dan berita seperti apa yang dapat dikatakan salah. Kendati demikian, di bulan Ramadan, juga harus mempersiapkan bekal agar ibadah puasa yang dilakukan tidak sia-sia.

Berpuasa yang baik, harus diikuti dengan perilaku yang baik juga, misalnya ketika bulan Ramadan tiba harus sering melakukan hal-hal yang positif. Seperti berpikir secara rasional, tidak mengolok-olok orang yang mempunyai perbedaan pilihan, dan tidak menyebarkan berita hoaks.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, pada Ramadan kali ini merupakan bulan politik. Masyarakat sedang menantikan siapa Presiden dan Wakil Presiden yang akan memimpin negeri ini. KPU (Komisi Pemilihan Umum) menetapkan 22 Mei 2019 untuk mengumumkan Presiden dan Wakil Presiden terpilih.

Godaan saat Ramadan tak hanya dalam menjalankan puasa, melainkan juga sikap dalam menghadapi hasil pemilu. Oleh sebab itu, Ramadan pada tahun ini, merupakan Ramadan yang membutuhkan suntikan energi berpikir yang lebih baik lagi, agar akal sehat kita tidak terhasut oleh informasi-informasi yang bisa membuat kita saling melakukan hal-hal yang negatif

Dahsyatnya Godaan Politik

Ramadan tahun ini, bukan hanya momen untuk melawan godaan dari setan yang terkutuk, tetapi juga momen untuk menahan godaan dari para aktor politik yang akan mengajak ke jalan yang sesat.

Para aktor politik yang tidak terima terhadap hasil yang diperoleh dari Pemilu, akan mengajak masyarakat untuk melakukan hal yang seolah-olah dianggap benar. Dahsyatnya godaan politik yang ada di negeri ini, akan membawa kita untuk melupakan hakikat puasa itu sendiri. Pada akhirnya ibadah puasa kita hanya mendapatkan lapar dan haus saja.

Patut untuk diingat bahwa para aktor politik yang tidak terima dengan hasil Pemilu nanti, akan mengeluarkan senjata pamungkasnya untuk meracuni akal sehat masyarakat, yakni dengan melakukan propaganda dan agitasi.

Propaganda adalah sebuah rencana sistematis atau gerakan bersama untuk penyebarluasan suatu keyakinan atau doktrin. Propaganda didefinisikan sebagai argumentasi akal pikiran, filsafat, sejarah dan ilmu pengetahuan untuk memengaruhi orang terdidik dan cukup cerdas. Seorang propagandis biasanya bekerja terutama dengan memakai bahasa cetak (Shoelhi, 2012: 143).

Aktor politik yang ada di negeri ini merupakan seorang propagandis yang akan meracuni akal sehat kita, melalui informasi-informasi yang seolah-olah dianggap benar, tetapi hakikat informasi tersebut ternyata hanya untuk mengajak masyarakat agar bertindak secara anarkis.

Secara etimologis, agitasi berasal dari bahasa Prancis agiter yang berarti menghasut. Webster Dictionary menjelaskan kata agitasi berasal dari bahasa Latin agitates atau agitare yang berarti mengacaukan. Menurut kamus Oxford, mengagitasi adalah membangkitkan perhatian (to excite) atau membuat kacau pikiran (sir it up) (Shoelhi, 2012: 142). Agitasi akan dilakukan melalui saluran apapun itu, baik saat kita sedang berinteraksi, maupun melalui media sosial, dan lain-lain.

Agitasi akan menghasut dan megacaukan pikiran masyarakat yang tidak menggunakan akal sehatnya. Seseorang yang ahli dalam mencuci otak masyarakat, tidak akan pernah kalah terhadap argumentasi apa pun, sehingga sesuatu yang bohong pun akan terlihat seolah-olah benar terjadi, ataupun benar akan terjadi. Oleh karenanya, akal sehat yang dikaruniai oleh Allah SWT harus digunakan dengan sebaik mungkin untuk melawan para aktor politik yang berniat untuk menghancurkan ibadah puasa kita menjadi sia-sia.

Jangan Asal Mengikuti

”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”, (QS Al-Isra: 36).

Allah SWT berfirman agar kita tidak asal mengikuti seseorang tanpa pengetahuan yang baik. Bisa jadi kita tidak pernah mengetahui, bahwa para aktor politik tersebut mempunyai kepentingannya sendiri, ketika calon yang mereka dukung tidak mendapatkan kemenangan. Sehingga mereka pun akan sangat senang, karena mereka berhasil menghasut masyarakat untuk bertindak anarkis. Sedangkan ketika kita mengikuti perintahnnya, akhirnya kita hanya mendapatkan pepesan kosong, dan ibadah puasa kita hanya mendapatkan lapar dan haus saja. Ibadah puasa yang baik juga harus dilengkapi oleh cara berpikir yang sehat, agar terhindar dari dahsyatnya godaan para aktor politik yang ada di negeri ini. (ila)

*Penulis adalah mahasiswa Universitas Serang Raya, Fakultas Ilmu Sosial, Ilmu   Politik dan Ilmu Hukum (FISIPKUM), Prodi Ilmu Komunikasi, Konsentrasi Public Relations.