MAGELANG – Pentingnya sentuhan tangan kreatif dalam menyampaikan dakwah melalui dunia maya sudah mulai disadari oleh berbagai kalangan. Termasuk para santri dan kader NU.

Dalam rangka memerangi konten negatif, berita bohong atau hoaks, serta ujaran kebencian di media sosial Tim Media MWC NU Salam, Magelang menggelar pelatihan desain grafis. Kegiatan ini bertajuk Ngaji Kreatif dengan tema “Ing Desain Sung Tuladha” di Gedung Nahdliyyin Center Pulosari Jumoyo Salam.

Menurut Tim Media MWC NU Kecamatan Salam Kabupaten Magelang Muhammad Imam Muttaqien, saat Ramadan ini, kita tidak hanya beribadah secara vertikal hanya kepada Allah SWT. Namun kita juga dituntut beribadah secara sosial.”Dalam konteks era media sosial ini kita perlu menjaga diri dari penyebaran hoaks, berita bohong, ujaran kebencian, dan ujaran provokatif,”jelasnya.

Karena bagi yang berpuasa tapi menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian atau provokatif, tidak ada artinya sama sekali puasanya. Rasulullah SAW bersabda, siapa yang berpuasa namun tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta dan perbuatan bodoh, Allah SWT tidak ‘memerlukan’ jerih payah dari pada ibadah puasa di mana ia meninggalkan makanan dan minumannya,”  kata Imam mengutip hadist yang diriwayatkan Bukhori – Abu Daud itu.

Lalu apa hubungannya dengan belajar desain grafis? Menurut Imam, alasan pentingnya belajar desain grafis terlebih bagi santri dan kader NU di era millenial saat ini adalah dengan memperbanyak konten positif, otomatis menggerus keberadaan konten negatif tersebut.

Menruutnya, Di zaman ini, dakwah dengan sentuhan kreatifitas baik berupa gambar (meme, infografis) dan akan lebih mengena. Khususnya di kalangan millennial, yang setiap kesehariannya tak luput dari mengakses smartphone dan bermedsos ria.

Karena itu, inilah perlunya belajar desain grafis.  Karena dunia maya memerlukan itu agar bisa menyampaikan pesan dakwah yang santun juga menyejukkan. Misal seperti membuat quote para kiai atau pesan-pesan dalam kalamullah, kitab kuning yang kemudian dikemas menjadi sebuah karya desain.”Tidak hanya enak dinikmati, juga mudah dipahami serta diamalkan,”tuturnya.

Salah satu peserta dari Pondok Pesantren Nur Muhammad Grabak, Rohadi mengatakan, motivasi mengikuti kegiatan Ngaji Kreatif ini karena ingin belajar membuat media untuk membantu proses pembelajaran membaca kitab kuning ‘Nahwu Shorof’untuk diterapkan di pesantrennya.

Menurutnya, ngaji dengan didukung media audio visual sangat mudah difahami. Selain itu tidak membosankan.”Sekaligus menghibur dan mengasyikkan,’’ tegasnya.

Kegiatan yang baru pertama dilaksanakan ini, diikuti oleh santri dan generasi muda NU di wilayah Kecamatan Salam, Ngluwar, dan Grabak. Rencananya kegiatan ini rutin digelar. (din/fj)