BANTUL – Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia terus bertambah. Kali ini menimpa Warkijan, 59, anggota KPPS yang bertugas di TPS 20, Parangtritis. Almarhum diketahui meninggal pada  30 April 2019.

Wartawan Senin (13/5) mengunjungi kediamannya yang beralamat di Desa Grogol IX Parangtritis RT 03, Kretek, Bantul. Rumah almarhum dalam kondisi sepi, serta tidak ada satu pun anggota keluarga yang dapat ditemui.

Radar Jogja mencoba menggali informasi dari tetangga sekitar, dan mendapat nomor handphone salah satu anak Warkijan, Eko Setyo Raharjo. Eko menjelaskan, pemyebab ayahnya meninggal diduga karena kelelahan setelah bertugas sebagai KPPS.

Diceritakan, setelah prosesi pencoblosan dan rekapitulasi surat suara 17 April itu, ayahnya mengalami penurunan kondisi badan. Yaitu sering tidur di berbagai tempat.

“Sebelumnya bapak hanya tidur di kamar saja. Setelah bertugas menjadi KPPS, bapak jadi sering tidur di kursi atau kalau setelah  mengurusi masjid, kemudian tidur di masjid. Sebelumnya bapak tidak pernah begitu,” ujarnya.

Awalnya Eko juga tidak menduga kalau ayahnya akan meninggal setelah bertugas di Pemilu 2019. Dari penuturan pemuda yang sedang menempuh pendidikan S2 di salah satu PTS di Bantul ini, almarhum ayahnya juga tidak pernah mempunyai riwayat penyakit berat.

Sebelum meninggal, lanjut Eko, ayahnya juga masih melakukan aktivitas sehari-sehari yaitu mengajar dan mengurus kegiatan masjid. Namun sehari sebelum meninggal, ayahnya sempat meminta tolong untuk minta kerokan kepada salah satu siswanya.

“Kami mengira bapak hanya menderita masuk angin, dan biasanya sembuh setelah kerokan atau diberi obat masuk angin yang dibeli dari warung. Makanya, tidak kami bawa ke rumah sakit,” katanya.

Eko mengetahui ayahnya meninggal pada Selasa, 30 April, pukul 05.00. Hal itu setelah ibunya mencoba membangunkan almarhum karena dicari rekan ayahnya, namun sulit dibangunkan dan sudah dalam kondisi meninggal dunia.

Hari itu juga Warkijan dimakamkan  di Makam Suci Grogol IX, Desa Parangtritis. Saat dihubungi, Eko mengaku sedang mengurus adminstrasi mendiang ayahnya di KPU Bantul. Hal ini agar keluarganya mendapat santunan atas gugurnya petugas pemilu ini.

“Kami juga berharap bisa dapat santunan. Seumpama kami mendapat santunan Alhamdulillah, tapi kalau tidak dapat ya tidak apa-apa,” katanya. Warkijan meninggalkan istri bernama Wijiyati yang berprofesi sebagai guru PAUD, serta dua anak, Eko Setyo Raharjo dan Ristina Dwi Utami.

Sementara itu, salah seorang tetangganya, Supadi, 50, menceritakan selain bertugas sebagai petugas KPPS, Wakijan juga guru di salah satu sekolah di Gunungkidul. Almarhum juga menjadi takmir di Masjid Jami Maualana Maghribi.

Wanita yang berjualan pulsa tak jauh dari rumah Warkijan ini mengatakan, semasa hidup Warkijan dikenal sebagai sosok yang baik dan aktif di masyarakat. Dia juga tidak menyangka kalau tetangganya meninggal secara mendadak. Diceritakan, pada malam hari sebelum meninggal almarhum bahkan sempat menemani putrinya untuk salat tahajud.

“Pak Warkijan juga orang yang jujur serta disiplin, sehingga diberi tanggung jawab untuk menjadi bendahara di masjid kampungnya,”   tambah Supadi.

Terpisah, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bantul Didik Joko Nugroho mengatakan, petugas KPPS yang meninggal sudah didaftarkan dalam penerima santunan. Sedangkan untuk pemberian santunan itu, diakuinya masih menunggu keputusan dari KPU Pusat.

Dengan meninggalnya Warkijan, pihaknya mencatat di Bantul terhitung sudah ada dua petugas penyelenggara pemilu meninggal dan 14 petugas yang sakit. Dia juga berharap nantinya Pemkab Bantul memberikan santunan kepada keluarga petugas yang meninggal. (cr5/laz/zl)