JOGJA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia optimis kehadiran Yogyakarta International Airport (YIA) akan mendukung tumbuhnya industry baru. Tak hanya meningkatkan jumlah kunjungan wisata.

“Saya percaya, Jogja harapan kedepannya bukan hanya dari segi pariwisata. juga mendukung berkembangnya industri baru”, ujar Wakil Ketua Kadin Indonesia Anindya Bakrie di sela diskusi dan buka bersama Kadin DIJ dan anak yatim, Senin (13/5).

Anindya mengungkapkan Jogja dengan bandara baru yang dimiliki tentunya akan meningkatkan jumlah wisatawan. Berbagai obyek wisata baru akan muncuk. Tugas Kadin Indonesia, jelas dia, adalah mendukung Kadin provinsi untuk berkembang. “Tapi bukan berkembang secara sendiri – sendiri, tentunya dengan kebersamaan,” ungkapnya.

Sementara itu Ketua Kadin DIJ GKR Mangkubumi di DIJ perkembangan UMKM diharapkan bisa meningkat dengan hadirnya YIA. Dia meminta di lingkungan bandara baru harus ada stand atau tempat yang dikhususkan bagi UMKM. “Tak hanya franschise modern yang bisa membayar uang sewa di bandara,” pintanya.

Tapi puteri sulung Raja Keraton Jogja itu juga mengingatkan, supaya dilirik pembeli yang paling utama adalah kualitas serta keunikan produk. “Dan terakhir harus produk lokal dari DIJ, baik dari Kota Jogja maupun kabupaten yang lain,” ucapnya

Kadin DIJ meminta stan atau display untuk UMKM di bandara juga dekat dengan gate. Dengan dekat dengan pintu masuk, wajah lokal produk akan semakin terlihat bagi pengunjung bandara. Selama ini, dia menilai, yang banyak dipromosikan pariwisata, namun untuk makanan produk lokal masih kurang. “Biasanya untuk produk makanan, turis itu harus datang ke tempatnya sendiri, harus tau tempatnya sendiri. Dengan adanya UMKM di bandara, akan jadi wajah tersendiri di area bandara”, tegasnya.

GKR Mangkubumi juga mengungkapkan banyaknya mahasiswa di Jogja juga berpengaruh dengan berkembangnya industri kreatif. Mahasiswa dari berbagai daerah, mencoba berbisnis dengan membuka industri kreatif secara kecil. Mereka merintis bisnis justru di Kota Jogja, dan berakibat terciptanya bisnis rintisan mahasiswa yang mulai berkembang. “Bahkan jika bisnisnya sudah sukses di Jogja, mereka tidak pulang ke daerah asal,” katanya. (cr13/pra/fj)