SOSOK pemimpin satu ini memang memiliki karier cemerlang dalam memimpin lembaga. Mahkota kepemimpinan yang berhasil diraihnya melalui proses dari bawah. Semula dia dianugerahi jabatan mengendalikan satu unit. Ternyata kemampuannya mengelola unit  diapresiasi positif. Penghargaan datang dari staf, kolega, pimpinan di atasnya, dan pemilik lembaga.

Karena keterampilannya sebagai seorang leader tidak diragukan lagi. Dirinya diberi beban memimpin pada level  yang lebih tinggi. Begitu seterusnya. Setiap dipercaya menaiki satu tangga amanah menjadi pemimpin, selalu membawa perubahan ke arah lebih baik. Sampai puncaknya dia menjadi top leader di organisasi tersebut. Dia memang pemimpin mumpuni. Punya kemampuan memerankan diri sebagai tokoh yang paling bertanggung jawab terhadap berkembangnya lembaga.

Ketika mengawali kinerjanya sebagai seorang pemimpin mampu mengaplikasikan gaya transformasional. Gaya kepemimpinan transformasional memiliki sisi positif. Gaya kepemimpinan yang diterapkannyabermanfaatuntukmemberipengaruhkuat  bagi orang-orang yang berada di bawahnya. Kemampuanya menerapkan gaya kepemimpinan tersebut mengantarkan lembaga relatif tidak terlalu lama menuju ke  arah  yang lebih produktif.

Setelah kemampuannya menata lembaga teruji. Dirinya melanjutkan perjalanan membawa lembaga memiliki  manajemen yang sehat, menumbuhkan jiwa korsa, dan mengangkat reputasi lembaga lebih bergengsi di mata lembaga-lembaga lain.

Kinerjanya mengantarkan lembaga menjadi organisasi yang hebat berbuah manis. Keberhasilan memimpin lembaga tersebut  mengharumkan namanya. Dia disegani sebagai seorang pemimpin yang bisa mensejahterakan komunitasnya.

Namanya yang melambung berkah keberhasilan memimpin lembaga menempatkan posisinya terus langgeng. Beberapa periode memegang tongkat komando organisasi. Belum ada tanda-tanda generasi yang lebih muda menerima tongkat komando untuk menggantikan dirinya.

Kemampuannya memimpin lembaga memang sudah memperoleh lejitimasi dari staf, rekan kerja, dan pemilik lembaga. Pengakuan seperti ini  memotivasi dirinya terlalu asyik memimpin. Berbagai fasilitas yang diterima ternyata sangat dinikmatinya. Berbagai penghormatan yang diterima ternyata membuat dirinya bahagia. Berbagai penghargaan yang diterima ternyata membikin dirinya suka.

Terlena dengan berbagai fasilitas, penghormatan, dan penghargaan sayang membuat dirinya lupa. Tak ada upaya dari dirinya menyiapkan kaderisasi. One man show. Keinginannya sendirian untuk bermain merawat lembaga terlalu menonjol. Syahwatnya untuk mempertahankan kekuasannya terlalu kental.

Ini yang menjadi titik lemah dirinya. Dia hanya mampu memperbaiki dan menata organisasi sampai ke puncak. Tetapi dirinya tidak memiliki keterampilan psikologis kapan saat yang tepat harus berhenti ?

Seharusnya bila ada keterampilan psikologis tahu saat berhenti. Sejak periode ke dua kali kepemimpinannya, dia telah mempersiapkan kader. Dia memilih beberapa orang terbaik yang berada di lembaga untuk dipersiapkan menggantikan kepemimpinan dirinya. Ada transfer pengetahuan, ada tranfer pengalaman, dan ada transfer kemampuan leadership.

Bila dia memandang sudah ada beberapa orang di lembaga yang mampu menjadi pemimpin, segera menyiapkan suksesi. Mengacu pada peraturan, dia melakukan pergantian kepemimpinan  dengan damai. Seandainya hal ini dilakukan,  dia akanberhasil sampai garis finish tetap berada di puncak, meski tak lagi sebagai pimpinan tertinggi di lembaga.

Seandainya dia tahu kapan berhenti ? Namanya tetap berada di singgasana. Dia akan dicatat dalam sejarah kepemimpinan  lembaga. Dia sebagai profil pemimpin yang sangat berjasa memelihara lembaga tetap berada pada jalur prestasi.

Tetapi itu tak terjadi. Namanya yang harum mulai memudar. Karena nuraninya terbungkus oleh nafsunya mempertahankan kekuasaan, maka menjadi tidak peka lagi terhadap problem lembaga. Ada berbagai masalah yang tak berhasil di tanganinya. Bahkan kebijakan cenderung menjadi blunder. Kebijakan yang diterapkan berimplikasi bagi kemunduran organisasi. Manajemen mulai membusuk. Lembaga mengalami krisis. Dan dirinya tak mampu menyelesaikan. Celakanya dia tetap ingin berada di posisinya sebagai pemimpin.

Maka reputasinya terjun bebas. Kredibilitasnya menjadi hancur. Orang-orang  tak percaya lagi. Keberadaannya ditolak oleh lembaga. Keberhasilan yang diperjuangkan dari titik nol melayang.

Semoga kisah ini menjadi cermin bagi pemimpin agar tahudiri. Kapan  pada saat yang tepat harus berhenti…?